Aceh di mata di dunia adalah sebuah buku yang di translate kan kedalam bahasa indonesia yang mempuyai judul asli dalam bahasa aceh “atjeh bak mata donja” sebuah buku karya Tengku Hasan M. di Tiro yang di terbitkan pada tahun 2013 oleh bandar publishing, sebuah buku yang menarik perhatian untuk dibaca bagaimana pemikiran seorang Tengku Hasan M. di Tiro di kemas dalam sebuah buku yang dapat dinikmati oleh khayalayak luas terutama masyarkat aceh sendiri.
Mengetahui bagaimana aceh di mata dunia dan bagaimana bangsa di seluruh melihat aceh, maka buku ini menjadi bahan yang harus dibaca oleh generasi aceh pada masa yang sekrang ini untuk melihat siapa dirinya sebenarnya dan bagaima bangsanya di pandang oleh dunia.
Buku ini secara keseluruhan membicarakan bagaimana bangsa aceh sangat diperhitungkan di dunia ketika masa ke emasanya, bagaimana bangsa aceh menguasi ilmu diplomasi luar negeri, mempuyai negara-negara yang notabe islam sebagai sahabat yang siap membantu dalam keadaan apapun untuk membela harga diri bangsa dan agama.
Di awal buku, dalam sikapur sirih dari ahli waris penulis terdapat kalimat langsung yang di ucapkan oleh Tengku Hasan M. di Tiro yang membuat kita harus berfikir secara logika dan bagaimana pemikiran Tengku Hasan M. di Tiro dalam menghapi sebuah masalah, ketika itu di kuala lumpur malaysia kantor biro penerangan aceh merdeka digerebek oleh polisi kerajaan malaysia mereka semua mengambil semua dokumen dan data-data penting baik itu buku, tulisan, video, surat pribadi dari Tengku Hasan M. di Tiro semuanya disita oleh pihak polis namun yang menjadi perhatian ketika para pengurus melaporkannya kepada tengku hasan muhammad di tiro dengan santai beliau menjawab.
hana peue bah djipeupham teuntang aceh meurdehka. Adak meuhan, kon pajah ta mita tjara tjit untuk ta djok buku keudjih mangat djibatja?”
Dalam bahasa indonesia bisa di artikan “tidak apa-apa, biar mereka belajar dan membaca semuanya, agar mereka paham tentang aceh merdeka, jika tidak seperti itu kita harus mencari cara untuk memberikan buku-buku tersebut agar mereka bisa membacanya”
Kalimat ini bisa menunjukan karakter diri seorang Tengku Hasan M. di Tiro bagaimana ia menghadapi setiap persoalan dengan mudah dan tidak terlalu memikirkan bahwa itu merupakan persoalan yang rumit namun pernyataan beliau memberika semua orang berfikir bahawa apa yang dilakukannya adalah benar, karena ia hanya ingin semua orang tau bagaimana bangsa aceh yang mempuyai pemikiran untuk bisa mempertahankan harga diri demi negara dan bangsa yang mulia ini, yaitu aceh.
Dalam buku karangan Tengku Hasan M. di Tiro ia menjelaskan bahwa kerjaan aceh meliputi setengah sumatera yang mempuyai batasan wilayah yang terukur dan mempuyai kekuasaannya adalah pada sebelah timur batasannya sampai sungai kampar, sebelah selatan batasannya sampai ke bengkulu, untuk daratan melayu kerajaan aceh mempuyai wilayah kekuasaan dari negeri johor, pahang, perak, kedah dan perlis. Perihal batasan wilayah kekuasaan kerajaan aceh ini dapat di buktikan dalam beberapa buku dan catatan dari beberapa negara lainnya. Sehingga wilayah kerjaan aceh tidak semata-mata hanya catatan pribadi saja namun seluruh dunia mengetahuinya dan mencatat semua itu dalam rangkuman sejarah bagaimana bangsa aceh memperjuangakan harga diri dan bangsanya dari segala penjajah yang mengusik kedaulatan dan kemerdekaan kerjaan aceh.
Untuk pengulasan Part I ini mungkin cukup sampai disini, dan akan dilanjutjan dengan part ke II untuk beberapa hari berikutnya.
Salam
Semoga bermanfaat.
Maksal mina
Banda aceh, 15 maret 2018
.