Dalam kehidupan ini, sisi positif dan negatif selalu ada yang bukan berarti mereka harus disandingkan. Sering kita mendengar atau melihat contoh dalam aplikasi hidup ini. Kita bisa melihat perumpamaan seperti itu melalui berita atau sumber lain bahwa manusia juga tidak dapat dipisahkan dari merampas dalam artian kasar yaitu korupsi harta saudara seakidah mereka. Mengambil yang bukan hak untuk mengumpulkan kekayaan membuat hidup tidak nyaman. Terutama jika konsekuensi dari tindakan ini, kita disalahkan dan dipenjarakan.
Hidup sebagai orang yang bersalah dan di penjara tentu mengganggu ketenangan hidup baik dalam waktu singkat maupun lama. Pikiran juga terganggu oleh ejekan orang-orang di sekitarnya. Ketika direnungkan, awalnya adalah semua karena kita tidak mampu mengingat Tuhan ketika kita ingin melakukan hal-hal yang melanggar hukum sosial maupun hukum agama. Mengapa hal demikian bisa terjadi? Jawabannya sederhana, bahwa jika ada sesuatu yang najis di dalam tubuh kita, maka hanya berat itu yang menghalangi kita untuk diberkati. hal itu menghalangi diri kita yang dipimpin oleh hati sebagai raja untuk berbuat ta'at.
Bila tubuh kita bersih dari harta korupsi atau harta haram maka ketika mengingat Tuhan, Anda akan merasa diri Anda terus diawasi di mana pun Anda berada. Tidak ada tempat untuk melarikan diri dari pandangan-Nya. Juga tidak ada waktu yang terlupakan dari catatan malaikat yang bertugas mengawasi kita tanpa ada masa pensiun mendokumentasikan amal shalih atau maksiat. Dengan demikian, akan ada rasa malu dan takut melakukan kejahatan.
Kebaikan harus diimbangi dengan kebersihan mental. Dengan jiwa yang suci atau disucikan, konsep beragama yang dijalankan sebersih mungkin dapat mencegah hasrat jiwa dari mengambil harta orang lain apalagi sampai kita mengambil harta anak yatim maupun harta fakir miskin maka sungguh kita ini orang yang menempatkan pada posisi makhluk yang dimuliakan karena rahmat akal berfikir.