Aceh bisa dibilang sahabat hati bagi manusia perahu asal Rohingya, Myanmar. Sayangnya, himbauan untuk kembali membantu manusia perahu bila berada di laut Aceh, tidak bisa dilaksanakan, sebab sampai kini mereka yang coba keluar dari negerinya dan sudah sempat berada di laut, tidak diketahui lagi keberadaannya, masih selamat atau....
Betapa tidak, mereka yang terluka jiwa raganya di tanah kelahiran sendiri, lalu mencoba pergi karena tidak kuat untuk menderita, tapi masih tetap terkatung-katung di pelarian, bahkan ada yang mati ditengah pelayaran, dan banyak pula yang jadi permainan pihak yang berbisnis di perdagangan manusia, hingga ditolak kedatangan oleh negara tetangga, namun begitu perahu mereka berada di air Aceh maka nelayan Aceh langsung membawa mereka ke daratan.
Nelayan Aceh tidak bertanya asal usul mereka, kenapa mereka pergi dari negeri sendiri, dan tidak pula mengusik soalan konflik nan panjang di tanah kelahiran mereka yang sampai kini tidak diakui. Bagi nelayan Aceh, penderitaan yang tergambar di raut muka mereka sudah cukup alasan untuk segera membawa mereka segera berada di daratan.
Di daratpun, manusia perahu disambut secara manusiawi, seperti menyambut ketibaan saudara yang sudah lama terpisah bersebab perantuan. Setelah pulang, tiba dikampung halaman, tentulah patut untuk dipeutimang. Begitulah pula warga Aceh menyambut mereka yang datang dengan segenap penderitaan dari negeri seberang.
Konon lagi usai banyak yang tahu tentang nasib mereka di tanah kelahiran. Terasa seperti senasib dengan kisah di masa silam, saat warga hidup dalam konflik berkepanjangan. Ini baru konflik dengan negara, tentu saja tamu yang datang jauh lebih menderita sebab mereka terkepung konflik beragam muka.
Terlebih lagi yang datang adalah manusia perahu dengan iman yang sama, yaitu Islam. Rasa kasih sayang Aceh terhadap manusia perahu makin bertambah-tambah, bukan lagi sekedar sentuhan kemanusiaan, tapi juga sentuhan keyakinan. Muslim itu bersaudara.
Masalah manusia perahu Rohingya kini sudah bukan lagi soal keselamatan manusianya melainkan sudah menjadi masalah dunia terkait penghormatan kepada semua manusia untuk mendapat tempat tinggal yang layak dan aman dimanapun di atas bumi. Manusia tidak boleh dilarang untuk tinggal dimanapun hanya karena alasan asal usul dan keyakinan mereka. Sebagai manusia semua adalah penduduk sah di bumi, dan selebihnya hanya urusan administrasi yang tidak boleh meniadakan hak tinggal, menetap, berkehidupan.
Celakanya, selalu saja ada manusia yang melampaui batas. Baru-baru ini, manusia perahu Rohingya yang awalnya (23 Mei 2018) sempat dilaporkan terlihat di selatan pulau Satun, dengan mesin dalam kondisi rusak dan didorong ke arah perairan Malaysia, sampai kini belum ditemukan.
Saat itu Adli Abdullah dari International Concern Group for Rohingyas (ICGR) juga sempat menghimbau nelayan Aceh untuk memantau sekaligus membantu manusia perahu Rohingya bila terlihat berada dalam zona perairan Aceh.
Selengkapnya dapat dibaca berita di media aceHTrend:
Sumber: aceHTrend
https://www.acehtrend.co/penting-selamatkan-jika-melihat-boat-pengungsi-rohingya-di-laut-aceh/
Berdasarkan informasi terbaru yang dihimpun oleh Adli Abdullah, manusia perahu Rohingya belum ditemukan. Padahal, dari nelayan Thailand di Thailand Selatan diketahui sempat melihat 4-5 speedboat yang diduga sedsng mengangkut manusia perahu di antara Pulau Tarutou di Thailand dan Pulau Langkawi, Malaysia.
Karena sampai kini tidak adanya tanda-tanda manusia perahu Rohingya terlihat di laut Malaysia dan Aceh maka ada kemungkinan manusia perahu Rohingya berada di tangan para pelaku perdagangan manusia yang bisa jadi melibatkan pejabat Angkatan Laut dari negara terdekat.
"Ada kemungkinan mareka sudah dalam perangkap human traficking yang beroperasi di kawasan Thailand Malaysia, tetapi pihak NGO ICGR terus mencari keberadaan mereka, semoga saja akan ada berita baik untuk mareka," kata Adli mengutip penjelasan rekan-rekannya yang ambil bagian dalam membantu manusia perahu Rohingya. []