"Datanglah ke Gayo dan Nikmati selimut kabut dingin yang setiap hari membelai kulitmu"
Siapa yang tidak mengenal kata Gayo, Apalagi ahir-ahir ini dengan varian kopi yang sudah merayap ke pasar dunia atau sering kita menyebutnya Kopi Gayo sudah Go International atau seniman, akademis dan pengusaha yang sudah mencatat namanya di masing-masing bidangnya.
Fikar W. Eda, LK. Ara, Zuliana Ibrahim, Salman Yoga minsalnya mereka adalah penyair yang namanya tidak asing di telinga para deklamasi dari berbagai penjuru negeri kepulauan yang menganut sistem pemerintahan demokrasi ini.
Mungkin sajian kopi hitam pekat nan nikmat yang membuat para penyair-penyair asal Gayo ini renyah dalam merangkai katanya sehingga tersaji dan enak di nikmati bagai menyeruput kopi di pagi hari.
Munculnya ratting Gayo kepermukaan tentu ada beberapa penyebab selalin kopi dan seni Tari Saman ( Gayo Lues ) yang sudah memecahkan rekor muri dan sudah diakui UNESCO juga ada dari kalangan artis cilik Naura minsalnya yang memulai karirnya ikut indonesia idol cilik, Yusra Habib Abdul Gani, Muhammad Zunus Melala Toa dan Iwan Gayo ( yang pertama sekali membuat buku pintar ) dan tentu banyak tokoh-tokoh lain yang hebat menurut bidangnya masing-masing di pengusaha ada Rahmah Ketiara dan lain-lain.
Akan tetapi ada yang luput dari perhatian dengan prestasi-prestasi yang telah mereka ukir dengan sangat wah itu,
- Mengikisnya adat dan kebiasaan
Pengikisan ini bukan seperti gunung berapi yang sesaat bisa menggila dan mematikan, perlahan di bawa kearah yang nyaman dan nikmat sehingga membuat lalai tidur dan diam, budaya seperti ini mungkin akan lama bertahan sehingga menghapus kebiasaan-kebiasaan yang seharusnya di jaga dan di pertahankan.
Budaya minum kopi yang tidak lagi seperti sebiasanya urang Gayo (orang Gayo), sudah sangat terang-terangan di tampakan, tidak tau apa tujuan atau hanya mengikuti tren ala Barat dan lain-lain, budaya minum kopi masyarakat Gayo sangat sopan akrab dan penuh seyum sapa, sehingga muncul kata yang membuat saya terkadang terenyuh "mulie ni jamu karena kupi", "(tamu itu dimuliakan dengan kopi)".
Mengapa demikian karena saat tamu datang berkunjung akan ada kekhasan silaturrahmi bercerita, bercanda tawa di barengi sajian kopi secara otomatis tamu akan merasa diagungkan dengan sajian kopi yang dibuat penuh keikhlasan.
Ahirnya dipenutup saya ingin menyampaikan bahwa Gayo bukan hanya menawarkan keindahan alam yang sejuk nan membuat kamu nyaman akan tetapi ramah tamah penduduk setempat akan kamu dapatkan dengan seketika.
Jadi Ayo Ke Gayo
Catatan : Sadra Munawar "Mahasiswa Antropologi Asal Samar Kilang"
04 Januari 2018