Urusan pangan adalah urusan hidup matinya sebuah Bangsa. Begitu kata Soekarno. Bangsa ini berumur panjang bila urusan produksi pangan masih menjadi bagian kesenangan keluarga-keluarga petani.
Pagi pada hari ketujuh di bulan Juli, langit di atas Semende masih berawan. Keluarga Jumadi, petani di desa Cahaya Alam tampak asyik berkebun.
Azka nyenyak dalam gendongan. Terayun-ayun dipunggung sang ibu, Nur Asia, yang mengayunkan pacul menggemburkan tanah.
"Seumur tanaman cabe itu," seloroh Nur Asia sambil tersenyum ketika ditanya umum si bayi. Hampir setiap hari, ibu dan bayi ini bekerja bersama di lahan pertanian keluarga.
Nur Asia dan suaminya, Jumadi, memang sedang mengajak 4 dari 5 anak mereka berkebun bersama. Putra Sulung mereka ada di Palembang.
"Anak kedua dan ketiga sedang libur sekolah. Yang nomor empat baru mau masuk sekolah (dasar) tahun ini. Si Bungsu baru lahir bulan April kemarin," Jumadi yang juga menjabat kepala dusun memperkenalkan anak-anaknya.
Karena sedang berlibur, semua anak diajak ke kebun. Mengisi waktu luang, bermain, sembari membantu kegiatan berkebun. Menggemburkan tanah, merapikan bedengan, menebar kompos, hingga menanam.
Ramdiana, putri Jumadi yang sudah bersekolah SMU tampak menarik tali membuat garis bantu untuk membuat bedengan. "Untuk tanam sawi," katanya malu-malu.
Adiknya, Khairil sibuk mendorong lori berisi pupuk kandang dan sesampai di bedengan ia menebarkan pupuk kandang ke lubang tanam di bedengan. Zulfahmi, si kecil yang baru akan masuk sekolah dasar, mengayun pacul kecil.
Bagi masyarakat di pedesaan, bertani bukan profesi. Tapi sebuah budaya keluarga. Anak-anak Jumadi dan Nur Asia mengaku senang berlibur di kebun.
Hari ini mereka mengurus kebun sayur. Menanam sawi, merawat cabe, kol, buncis, dan tanaman sayur lainnya. Lain hari mereka urus sawah atau kebun kopi. Keluarga petani di tanah Semende memang tak hanya punya satu jenis kebun.
Apa yang saya saksikan pagi dua hari lalu mengingatkan pada masa kecil saya sendiri. Bagian dari proses pendidikan agroekologi berbasis keluarga. Bila urusan memproduksi pangan menjadi bagian rekreatif dari skala rumah tangga, maka panjang umurlah kedaulatan pangan di negeri ini.