Pada masa lalu, diperlukan kesaktian untuk mengubah musuh besar menjadi kawan. Pada "zaman now", kesaktian itu mungkin bisa setara dengan pengetahuan dasar yang mumpuni.
Keong mas (Pomacea canaliculata Lamarck) tergolong hama penting pertanaman padi di Asia. Banyak dikeluhkan para petani Indonesia. Lain lagi dengan di Marga Cinta, khususnya di sawah milik Kang Usep Hendrawan.
Petani alami dari Marga Cinta ini justru memanfaatkan keong mas sebagai hewan pembersih tanaman pengganggu padi di sawahnya. “Kesaktian” ini didapat dengan mempelajari perilaku keong mas serta kondisi tanaman padi di sawah. Kuncinya ada pada pengamatan yang cermat.
Jurus pamungkas Kang Usep justru dengan sengaja menebar keong emas. Pada saat batang padi yang dipindahtanamkan mulai mengeras, sawah digenangi, keong emas ditebar. Alih-alih menggganggu batang-batang padi, keong mas lebih memilih anakan rumput yang baru mulai bermunculan tumbuh. Lebih lembut.
Setelah lima hari atau satu pekan, anakan rumput dan jenis tumbuhan liar lain mulai tak terlihat. Saat itulah, air di sawah dikeringkan perlahan-lahan. Hewan moluska yang juga dikenal dengan nama siput murbai ini akan bergerak mengikuti arah aliran air. Berkumpul di parit-parit yang ada di tengah dan tepi sawah. Lalu, dikumpulkan dan dikeluarkan dari sawah.
Gulma bersih. Padi tak terganggu.
Proses pengeringan ini mesti dilakukan secara perlahan. Jika dilakukan secara cepat, keong mas tidak akan sempat mengikuti aliran air. Hasilnya, setelah sawah kering, keong mas tersebar acak di antara batang-batang padi. Bisa jadi masalah.
Jurus Kang Usep mengubah musuh petani menjadi sahabat ini dipadukan juga dengan memanfaatkan nener sebagai penyubur dan penyiang alami di sawahnya. ###