Petang kemarin, 15 Agustus, saya dapat undangan mendadak. Para ibu pengelola sampah di kampung meminta diajari cara mengolah sampah dapur menjadi kompos.
Pasalnya, beberapa minggu lalu mereka mendapat bantuan berupa alat pengompos. Sebuah drum plastik yang dimodifikasi agar dapat diputar. Diberi jendela untuk memasukkan bahan organik. Tapi, mereka belum tahu cara membuat kompos dengan alat bantuan itu.
Memberi bantuan tanpa membekali pengetahuan menjadi salah satu ironi intervensi zaman now. Tak heran bila banyak program pengembangan masyarakat tak berhasil sesuai harapan.
Abaikan soal alat. Cara kerjanya cuma meniru molen pengaduk semen dengan tenaga manusia.
Prabumulih seperti kota lain di Indonesia. Menghadapi persoalan sampah. Timbulan sampah mencapai 160 ton per hari. Angka yang lumayan tinggi. Perlu solusi mendasar.
Komposisi sampah didominasi sampah organik. Sekitar 60 persen. Jenis sampah ini pun paling mudah didaur.
Solusinya stop produksi sampah sejak dari dapur. Maka bersama 11 anggota bank sampah di kelurahan Majasari Prabumulih mesti belajar dari dasar. Dimulai sejak pengembangan mikroba pengurai. Sedangkan pilihan cara pengomposan menggunakan metode Takakura.
Belajar kompos sore ini diisi dengan beberapa bahasan:
- mengembangkan mikroba pengurai
- menyiapkan starter atau biang kompos
- tata cara pengomposan sampah dapur
- penggunaan kompos untuk tanaman budidaya
Diharapkan bila penanganan sampah sudah dimulai sejak olah sampah dapur tiap rumah tangga, kota-kota bisa merdeka dari persoalan sampah.
Si kecil ikut hadir :)