Sosok hitam itu bergerak mendekatiku. Tingginya kurang lebih 1 meter. Tangannya yang panjang membawa tubuh hitamnya berayun-ayun. Hatiku was-was, takut sosok itu mengancam keselamatanku. Hingga sosok itu berada tepat di depanku, kami saling bertatapan. Tiba-tiba tangannya meraih tanganku, dan mengambil pisang di tanganku.
Sepasang siamang Geurutee, kedua siamang ini sebenarnya sudah akrab bagi yang sering ke Geurutee - Aceh. Setiap hari di jam-jam tertentu mereka turun ke kedai-kedai mencari makan. Salah satu kedai yang sering di kunjungi adalah kedai Si Amang. Pemilik kedai memang setiap hari menyiapkan pisang buat mereka. Kali ini pertamakalinya aku mencoba lebih dekat dengan sosok hitam itu, dialah Siamang.
Siamang adalah kelompok Gibbons atau Owa. Yang menjadi khas dari Siamang adalah ia mempunyai kantung tenggorokan yang dapat di gembungkan. Kantong ini disebut Gular. Dari Gular inilah menghasilkan nyanyian khas Siamang. Gunanya untuk menarik perhatian lawan jenisnya dan sebagai penanda wilayah.
Sumber : Wikipedia Indonesia
Sebenarnya Siamang ini masuk dalam daftar hewan yang ternacam punah. Sebagian besar, siamang hidup di Sumatera. Populasi mereka ada juga di semenanjung Asia, seperti Semenanjung Malaysia dan thailand. Siamang adalah penyebar biji terbaik bagi hutan hujan tropis.
Dengan lahap Siamang memakan pisang yang sengaja aku sodorkan padanya. Ada satu pasang. Menurut pemilik kedai, beberapa tahun lalu mereka mempunyai anak, tetapi anaknya sudah tidak tampak lagi. Mungkin diambil orang yang tak bertanggungjawab untuk diperdagangkan, atau bisa jadi di tembak oleh pemburu. Jika memang demikian, alangkah menyedihkannya. Pemilik kedai ini sangat sayang dengan Siamang2 ini, bahkan dikala bulan ramadhan dan kedai tak buka, ia tetap datang ke kedai hanya untuk memberi makan Siamang ini.
Fenomena Siamang yang turun ke Kedai dan jalan ini sebenarnya sebuah tanda bahwa sumber makanan di hutan tidak cukup. Seperti kita ketahui, Indonesia adalah negara penggundul hutan yang terbesar di dunia. Dalam 50 tahun terakhir, Sumatra kehilangan 85% hutannya, dan saat ini masih berlangsung.
Masih ada harapan dan belum terlambat. Kita masih bisa mengembalikan habitat mereka. Kita masih bisa menjaga hutan kita laku melestarikannya dengan menanam pohon. Di Aceh sendiri ada sebuah wadah, yaitu Komunitas Hutan Wakaf. Kita bisa memberinkontribusi donasi atau ikut dalam kegiatan mereka (Azhar : 081269923974, Akmal : 081360200711 atau email admin : hutanwakaf@gmail.com.
Mari lestarikan hutan, bukan untuk siapa-siapa, tetapi untuk kita :)
Salam Kaki Lasak, Kemanapun Kaki Dilangkahkan
Follow Me :
Steemit @ kakilasak
Facebook @ husaini_sani
Instagram @ ucok_silampung & @ kaki_lasak
Whatsapp +6282166076131