If you hear the word Minangkabau we must immediately imagine the traditional house of Minangkabau tribe, the Rumah Gadang. In the form of Rumah Gadang, the roof is the most unique part, because it is made of fibers that are woven, then the tip tapering to form gonjong. Use of fibers as a symbol that Rumah Gadang is environmentally friendly. The roof shape is often associated with buffalo horns.
Jika mendengar kata Minangkabau pasti kita langsung membayangkan rumah adat suku Minangkabau, yaitu Rumah Gadang. Dalam bentuk Rumah Gadang, bagian atap adalah bagian yang paling unik, karena terbuat dari ijuk yang dijalin, kemudian ujungnya meruncing membentuk gonjong. Pemakaian ijuk sebagai simbol bahwa Rumah Gadang ramah lingkungan. Bentuk atap seringkali diasosiasikan mirip tanduk kerbau.
But there is also a saying that the roof of Rumah Gadang mimics Siriah Basusun (betel leaf compiled). It symbolizes Rumah Gadang as a link between family and friends. As a betel which is usually used as a symbol of connector friendship.
Namun ada juga yang mengatakan bahwa atap Rumah Gadang meniru Siriah Basusun(daun sirih yang disusun).Hal ini melambangkan Rumah Gadang sebagai tali penyambung silaturahim dan keluarga.Sebagaimana sirih yang biasanya digunakan sebagai simbol penyambung silaturahim.