Kau mungkin bertanya-tanya apakah sendiri itu jadi malam yang dingin seolah selimut tidak pernah diciptakan.
Kau mungkin bertanya-tanya apakah sendiri itu adalah angsa berbulu jelek yang diabaikan.
Kau mungkin bertanya-tanya apakah sendiri itu berarti gagal dicintai.
Kau mungkin tidak akan sanggup membayangkan apakah sendiri lebih buruk dari kau seolah diciptakan terpisah jauh dari orang yang kau cinta.
Tapi, saranku, kau tidak perlu membayangkan semua itu. Duduk menepilah, dan ambil secangkir kopi, beserta kumpulan puisi, atau kau bisa menulis sendiri puisi itu.
Setelah menyesap kopi, dan mungkin membaca tentang sedikit puisi, kau mungkin akan mengerti, bahwa sendiri bukanlah hal-hal yang selama kau tanyakan atau kau bayangkan.
Kopi dan puisi, memberimu keberanian untuk menjadi sendiri untuk alasan setia menanti. Kau tak akan peduli apa pun yang menguji rasa sendiri, karena kau yakin hatimu tidak pernah sendiri.
Kopi yang setiap malam kita pesan di kedai-kedai kopi, dan puisi-puisi terkadang hanya tersimpan di hati, adalah cara ternikmat kita menikmati hal-hal yang terlihat sendiri, tapi sebenarnya tidak sendiri.
Seni menikmati sendiri, adalah hakikat berani menuju siap mencintai. Kau akan belajar tentang dirimu sendiri sebelum kau siap membagi diri untuk hati yang kau cintai sampai mati.
Kau akan paham bahwa hatimu tidak pernah sendiri, itu sebabnya kau selalu berani, ke mana pun sendiri.