It's not easy to fight and make peace with bipolar disorder. However, as long as a person has a strong intention to fight and keep fighting in order to make peace with him, no word is impossible to escape and fight the disorder.
Tak mudah berjuang dan berdamai dengan gangguan bipolar.Namun, selama seseorang memiliki niat kuat untuk melawan dan terus berjuang agar bisa berdamai dengannya, tidak ada kata mustahil untuk lepas dan melawan gangguan tersebut.
This is the story of a thirty-two-year-old boy who can finally fight and fight bipolar disorder inside him. Septa Anggitayuda (32) is her name. Exactly in 2012, he was diagnosed with bipolar disorder. Not only that, doctors also diagnose it with some other diseases such as panic disorder (panic disorder), fear and anxiety excessive.
Inilah kisah seorang pemuda berusia 32 tahun yang akhirnya bisa berjuang dan melawan gangguan bipolar dalam dirinya.Septa Anggitayuda (32) adalah namanya.Tepat tahun 2012, ia didiagnosa menderita gangguan bipolar.Tak hanya itu saja, dokter juga mendiagnosanya dengan beberapa penyakit lain seperti gangguan panik (panic disorder), rasa takut dan cemas berlebihan.
"I was diagnosed as a schizoaffective, a combination of mental disorders and mood disorders, I experienced psycho-inflammatory symptoms, could not think realistically, hallucinate and delusional, I even claimed to be God," said the young man who is often called Anggit this.
"Diagnosis aku sebenarnya berubah-ubah. Aku pernah didiagnosis skizoafektif, gangguan mental kombinasi dan gangguan suasana hati. Aku mengalami gejala berupa psikoasis, tidak bisa mikir realistis, berhalusinasi dan delusi. Aku bahkan pernah mengaku sebagai Tuhan," ungkap pemuda yang kerap disapa Anggit ini.
Due to his condition, the young man who is a graduate of the Faculty of Art Institute of Technology Bandung (FS ITB) should undergo a series of treatment in a mental hospital. The doctor who examined her revealed that the bipolar she was supposedly more related to depression. During the year Anggit underwent a series of care, therapy and intensive treatment at a mental hospital. 2013 he can just do the outpatient and fix everything.
Akibat kondisinya, pemuda yang merupakan lulusan Fakultas Seni Institut Teknologi Bandung (FS ITB) harus menjalani serangkaian perawatan di rumah sakit jiwa.Dokter yang memeriksanya mengungkapkan bahwa bipolar yang ia idap lebih terkait ke depresi.Selama setahun Anggit menjalani serangkaian perawatan, terapi dan pengobatan intensifdi rumah sakit jiwa.2013 ia baru boleh melakukan rawat jalan dan memperbaiki segalanya.
Despite having done a series of treatments, Anggit still had to take medication and control his health in a psychiatrist who had been helping him. For so long suffering from this bipolar, Anggit had time to think about ending life. But slowly but surely, his passion for recovery from bipolar disorder arises.
Meski telah melakukan serangkaian perawatan, Anggit masih harus minum obat dan kontrol kesehatannya di psikiater yang selama ini membantunya.Saking lamanya menderita bipolar ini, Anggit sempat berpikiran untuk mengakhiri hidup.Namun secara perlahan tapi pasti, semangatnya untuk sembuh dari gangguan bipolar muncul.
April 2018 strong intention to recover from bipolar disorder felt Anggit. He also continues to motivate himself and go back to art. He began to create fascinating and impressive paintings titled paradepola. Anggit paintings generally have visual elements that are difficult to be interpreted but so interesting.
April 2018 niat kuat untuk sembuh dari gangguan bipolar dirasakan Anggit.Ia pun terus memotivasi dirinya dan kembali menekuni seni.Ia mulai menciptakan lukisan-lukisan menawan dan mengagumkan bertajuk paradepola.Lukisan karya Anggit umumnya memiliki unsur-unsur visual yang sulit dimaknai namun begitu menarik hati.
The paintings of Anggit are exhibited in Galeri Cipta III,
And this year, the paintings of his works entitled # 4hours are displayed in Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Unlike other painters, who are most likely to paint from ideas, Anggit's painting begins without an idea. When painting, he is engrossed in painting various patterns freely, flowing just like that.
Dan tahun ini, lukisan karya-karyanya yang diberi judul #dua puluh empat ditampilkan di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.Berbeda dengan pelukis lain, yang kemungkinan besar melukis dari ide, lukisan Anggit justru dimulai tanpa ide.Saat melukis,ia asyik melukis berbagai pola secara bebas, mengalir begitu saja.
"I will not know, my paintings the result like how. It was never considered. Yes, anyway while walking. I'm the type of painter, who, when it's motoric. Motion first (painting), new ideas arise. Not an idea first, just motion, "he continued.
“Aku enggak bakal tahu, lukisan aku hasilnya kayak gimana.Itu enggak pernah dipikirin.Ya, pokoknya sambil jalan saja.Aku ini tipe pelukis, yang kalau sifatnya motorik.Gerak dulu (melukis), baru muncul ide.Bukan ide dulu, baru gerak,” lanjutnya.
By this time alone, through the paintings he produced, Anggit began to control his depression. Despite having to take medication and control to the psychiatrist once a month, the young man admits that his feelings are now calmer, more comfortable and less prone to emotion.
Saat ini sendiri, lewat lukisan-lukisan yang dihasilkannya, Anggit mulai bisa mengontrol depresinya.Walau harus tetap minum obat dan kontrol ke psikiater dalam waktu sebulan sekali, pemuda ini mengaku bahwa perasaannya kini sudah lebih tenang, nyaman dan tidak mudah tersulut emosi.
Okay, thanks for steemit friends who have read my post, hopefully motivated.