Gaduh!
Suasana kian gaduh!
Resah!
Membuat semuanya resah. Dimana politik regional yang penuh intrik menyeret opini masyarakat hingga berkata dan berpikiran picik, kepentingan politik sudah tidak lagi memihak kepentingan wong cilik namun lebih mencintrakan jagoanya supaya menang dalam pemilihan kontestan. Semua orang merasa herab kenapa banyak sekali pembodohan yang dijejalkan kepada orang pinggiran lewat media yang asal asalan. Politik duhai politik kini kau menjadi semacam hantu model baru yang menakutkan, BBM naik, sembako naik, semua naik hanya karena para penguasaha yang sdh tidak peduli dengan kaum cilik. Semua bekerja atas dasar kepentingan golongan. Di sana sini hujatan kebencian, sentimentil dan pembukaan aib secara masif telah menjadi agenda yang sulit dipahami mengapa sudah demikian agresifnya bangsa kita. Oh rakyatku, sabarlah kalian. Disaat penguasa makan malam di kafe engkau justru tertidur di bawah kolong jembatan berselimutkan kepulan asap pembakaran sampah. Naas. Sunggub naas. Diombang ambing, dimarjinalkan dikecewakan. Suaramu sumber kekayaan pribadi bagi para politisi. Ketika merek mendapatkan tahta kerajaan justru lupa dengan rakyatnya. Politik oh politik. Keras tapi tak tegas. Pembela tapi menyesatkan...