butir air mata menumpuk dipelupuk matamu
menjelaskan rasa, saat kau membaca baris baris cinta dari sang pendosa
ku usapkan, telapak tanganku pada pipimu yang pucat
kurasakan, dada ku semakin sesak dan ngilu
bersama cahaya kejora dimalam itu
aku hanya terdiam bisu
ingin ku berkata
aku cinta kamu
namun, bibir ini terkatup rapat. Melekat bgaikn tercekat
kurasa getaran merangkak diujung jari jariku yang kaku
sungguh! aku pendosa bodoh yang tak pandai bicara
untuk sekedar bicarakan cinta
biarlah, cinta ini kupendam dalam sepi
hingga kutemukan tangga pelangi untuk menujumu wahai Bidadari
Kerinduanku