Kembali saya terusik dengan puisi yang ditulis oleh yang diberi judul Replika Surga, sungguh pemilihan judul yang bisa meningkatkan stamina penasaran saya untuk memasukkannya dalam rubrik #bidikpuisi yang saya ampu.
Biar steemian (pembaca) tak penasaran dengan yang menjadikan puisi ini terpilih dalam bidik puisi saya sertakan linknya, https://steemit.com/artpoem/@penasantri/art-poem-10-or-or-replika-surga-51316ddcdfc7f
(Ali Fahmi Cholid, M.Pd.I) membaca gelar pendidikannya saya semakin penasaran untuk memasuki kamar ide yang disajikan.
Puisi ini dilahirkan di Madura tepatnya 22 Juli 2018 dan tersaji dalam dua bait puisi, di bait pertama menulis,
(sumber foto: pxhere.com)
Bila dunia tak saling tikam dan tiap pertemuan mendapat kado istimewa senyuman, itulah replika surga yang menggetarkan.
sebuah latar suasana yang mendeskripsikan bagaimana replika surga itu bisa di indera lewat deskripsi dengan pemilihan diksi yang apik di bait pertama.
tidak adanya saling tikam dan adanya kado istimewa berupa senyuman dalam pandangan bisa disebut sebagai replika surga.
Ternyata replika surga itu bisa terjadi bila kita berada dalam keadaan atau situasi hidup yang begitu damai.
Saya menduga lewat puisi yang diberi nama replika surga sedang mengusahakan perdamaian yang asyik. Perdamaian yang tak saling kutuk. Kehidupan yang tak saling menjatuhkan.
Saya semakin penasaran kejutan apakah yang disajikan di bait kedua yang merupakan tahapan replika surga bisa digalakkan, Jika rindu masih berdetak dan cinta tak kehilangan aura, itulah replika surga yang mengharukan.
Cara lain untuk mengimplementasikan replika surga adalah memeriksa detak rindu dan aura cinta, jika jeduanya tak ada kendala maka bisa dipastikan replika surga yang dibuat akan tampak semakin anggun.