Kali ini ada yang berbeda dari Bidik Puisi yang saya ampu karena lama vakum dan saya coba memulihkan konsentrasi penuh guna memantik stamina agar #bidikpuisi bisa berjalan istiqamah dan rubrik kali ini memilih karya steemian , steemian pemilik reputasi (46) rupanya pandai membaca situasi dan juga kreatif mengolah era teknologi, *jika yang populer adalah mulutmu harimaumu maka
banting setir dan menamai wacananya yang dibalut dalam puisi jempolmu setajam pedang, berikut link puisi yang dipilih dalam rubrik #bidikpuisi yang saya ampu, *https://steemit.com/poetry/@rokhani/jempolmu-setajam-pedanh-78e7dedaf3fec
Dalam bait pertama, seakan ingin membuka lembaran ingatsn kita sebagai pembaca puisi ini tentang suatu yang penting yang kerap kita dengar maka
menulis Masih ingat nasihat orang tua kita/Jangan mudah melepas kata/Menjaga mulut seperti menjaga harimaumu/Bisa menerkam orang lain dan dirimu//
Sejenak bila kita baca berulang tampaknya ingin memastikan bahwa yang diwacanakan bukan hal yang baru ianya sudah menjadi tradisi dan mendarah daging.
Bait kedua, mencecar kita dengan sudut pandangnya seakan tak ingin memberikan kita kesempatan bernafas. Sejenak tampak arogan. Namun jika kita renungi kembali dapat kita maklumi sebab
telah melakukan teknik bernasehat dalam kebaikan, Sekali lidah berucap tak bisa ia tarik kembali/Laksana ludah yang mungkin kita jilat lagi/Jati diri kita akan terlihat dari ucapan/Bisa jadi cermin diri dalam berkelakuan// Intinya
menginginkan dirinya dan diri kita selaku pembaca bahwa masa lampau yang lebih bahaya adalah mulut sedang zaman now yang paling bahaya adalah tarian jari.
Akibat yang bisa terjadi bila kita tidak bisa menjaga mulut, mengungkapkan kepada kita, Ucapan menyakitkan dari rumor dan fitnah/Akan melukai hati sampai meradang dan bernanah/Sekali luka tergores akan sulit tersembuhkan/Membuat hubungan rusak dan berantakan//
Setelah menyajikan wacana masa lampau, kini menyorot permasalahan kekinian dan
menulis, Tapi kini bukan hanya lidah yang tajam/Jempolmu bisa menusuk dan menghujam/Dengan tulisan dan gambar di gawai yang kau kirimkan/Menyakiti saudara dan juga teman-teman//
semakin mempertegas pandangannya dengan penuh bara api semangat,
lalu menulis, Sekali posting hoak dan ujaran kebencian/Dapat mengadu domba dan menghancurkan/Menebas manisnya pertemanan dan persaudaraan/Hingga luluh lantak semua hubungan//
sudah kehilangan kendali dan sudah tak bisa tawar menawar dengan laku zaman niw yang begitu memprihatinkan,
mengungkapkannya, Jempolmu kini bisa setajam pedang/Kalau pedang hanya membunuh satu dua orang/Jenpolmu bisa membuat banyak nyawa melayang/Bahkan bisa memicu terjadinya perang//
Ada perbedaan yang begitu mencolok antara zaman old dan zamsn now dalam menandai carut-marut yakni zaman old yang dipandangan sangat bahaya adalah mulut sedang zaman now adalah jempol, paling tidak ini yang sedang diwacanakan pada kita.
mengungkap yang marak terjadi dan akibat yang ditumpakan,
menulis, **
Dimana-mana ada fitan dan hoak/Merampas kemerdekaan dan hak/Hanya demi kepuasan diri/Bahkan hanya sekadar cari sensasi//**
Kini lebih intens mengutarakan kegelisahan lalu
menulis Tak sadar akan bahaya yang mengancam/Seperti intaian binatang buas yang akan menerkam/Seperti pedang yang ditebaskan membabi buta/Tak lihat arah dan sasaran berada// di puncak gelisah
masih bisa mengolah emosi dan berbagi tips keluar dari carut marut, Jagalah jempol dan lidahmu/Agar selamat dari neraka dan hidupmu/Berpikirlah dengan jernih sebelum bertindak/Ambil keputusan dengan bijak//
Kekhawatiran yang begitu puncak sangat menggelisahkan hati dan agar kita terlepas dari wasangka dan saling memulung airmata
menulis Tahan diri dari berolah raga jempolmu/Kalau hanya menyakiti kawanmu/Itu lebih baik dari pada menebar aib dan kebencian/Yang akan menjadi sebab kehancuran//
Kekhawatiran bukan dipelihara tetapi ditaklukkan dan diselesaikan maka pun mengakhir wacana yang diusung dengan menulis bait penutup, Berujar dan berposting yang sehat/Agar memberi hikmat dan manfaat/Mengingatkan dan saling berbagi/Bertambah ilmu dan menyambung silaturahmi//
Membaca puisi yang ditulis saya menemukan intisari bahwa ketika makna pesan yang lebih dikedepankan diksi yang terang benderang bisa dipilih namun resiko yang diterimanya puisi yang lahir layaknya khutbah, kita dicecar dengan pandangan seakan hanya punya satu pilihan yakni mendengarkan.