Ada yang bilang menulis itu mudah, pun banyak yang berkata menulis itu sangatlah susah. Sebenarnya kembali lagi soal hal-hal yang mempengaruhinya, seperti kebiasaan yang diulang; terus menulis, membaca tulisan orang, buku, dll, efeknya menjadi kebiasaan. Sebaliknya, kalau tidak pernah mau memulai atau bahkan memaksakan diri, tentu akan terus merasa susah.
Dalam perdebatan mudah dan susah, perkara menulis yang tak gampang sering saya temui 'susah', bilamana menulis tentang orang lain, lebih-lebih menulis mengenai diri sendiri.
Ada dua indikator untuk itu; biografi dan autobiografi. Bedanya, yang pertama orang lain yang menulis mengenai seseorang, sedangkan yang kedua, menulis tentang diri sendiri oleh pribadi.
Pertanyaannya, kenapa selalu tak mudah menulis tentang orang lain? Sebab, ada perasaan "gak ennakan" yang terus terpelihara. Merasa takut tidak ideal dengan kejanggalan takut melebih-lebihkan, sungkan untuk vulgar, dan sederetan gak ennakan lainnya. Menulis tentang orang lain beratnya soal moral, semacam apa ya? Terlalu jujur salah, berbohong dalam balutan puja-puji jauh lebih salah.
Mencatat pribadi seseorang tidak hanya menarasikan perjalanan hidupnya, tapi juga menuturkan nilai yang terkandung dari pribadi tersebut di hadapan naskah. Sederet fakta saja tidaklah cukup, tentu ada pemanis diksi saat penjabaran. Yang patut diperhatikan sebenarnya hanyalah takaran kadar, untuk apa? Meminimalisir bias.
Sebaliknya, menulis ihwal diri sendiri jauh lebih berat dikarenakan ketakutan dianggap narsistik. Seolah-olah, saat fakta yang berbau prestisius disampaikan, akan dilakap dengan stempel jampok. Di lain sisi, menutupi tentang keburukan diri juga berisiko dengan anggapan tidak fair, mau yang baik dan indah-indah saja. Menulis autobiografi pertaruhannya lebih kepada citra diri di mata orang.
Kita bisa berdalih bahwa seharusnya fakta ya fakta. Namun, jangan lupa kecenderungan keberpihakan adalah bagian dari fitrah manusia. Di sinilah, perasaan merongrong logika, yang sering, di hadapan dua tulisan model di atas fakta menjadi lembek.
Antara biografi dan autobiografi kendalanya cuman satu; "baper". Dalam proses ini, tidak tunggal. Melibatkan tiga pihak; penulis, orang yang ditulis dan publik (pembaca). Eksesnya adalah entah sadar atau tidak, saat menulis, baper gak ennakkan terus menghantui. Mau beralasan: tulis saja, gpp. Sebenarnya, juga gak mudah bagi semuanya.
Lalu apa solusinya? Penerimaan. Bagaimana si penulis mampu mengontrol kadar bapernya agar tetap fokus pada fakta yang ada dengan narasi yang dirajut. Pun sama, bagi si yang ditulis. Ia harus mengontrol sisi emosi supaya hati dan pikirannya tidak rentan terhadap selaga "alah" maupun "ketakutan akan citra diri". Untuk pembaca, mereka punya kebebasan menilai. Kalau penulis dan si tertulis sudah bisa begitu, yang lainnya tinggal bismillah saja.
Menulis tentang orang lain itu sesungguhnya penting, bagus untuk mendewasakan ego. Bagaimana kita bisa mengapresiasi manusia dengan pendekatan kita sendiri, dengan narasi yang kita banget. Tentu tanpa memungkiri proses observasi, wawancara, dsb.
Pun sama baiknya menulis diri sendiri. Kita bisa mengarsipkan setiap penggalan hidup dengan segala kisah yang ada. Toh, tidak ada jaminan ada orang lain akan menulis kita. Sekaligus, bagaimana cara kita untuk menguji sisi narsistik yang ada. Apakah atas nama citra makin kalap, atau justru minder dan nyungsep.
Pada akhirnya, menulis tentang manusia dan sisi kemanusiaan merupakan bagian daripada belajar dari makhluk yang konon khalifah di atas makhluk lainnya. Ada banyak misteri tak terungkap dari manusia itu sendiri, bahkan kadang, kita terlalu enggan membahas diri atau orang lain hanya karena ketakutan dengan tanda tanya tak pernah berujung. Maka wajar, pertanyaan seperti "Siapa Aku" masih terbata-bata kita jawab dan tak pernah puas mencari tahu segala sisi mengenai pribadi atau individu.