Source: pexels
Smartphone alias gawai adalah perangkat komunikasi tercanggih yang pernah ada. Gawai bisa membuat para pemegangnya pintar sekejap tapi di sisi lain bisa menyebabkan kedunguan berlebih bagi para pemakainya. Jutaan informasi, entah itu teruji kebenarannya atau hoax belaka, diproduksi sekaligus diakses per detik hanya dengan beberapa kali sentuhan ujung jari di layar perangkat ini.
Efeknya dunia menyempit. Bahkan tokoh-tokoh tertentu bisa dengan mudah masuk ke kamar tidur penggemar atau pembencinya.
Memang, dengan smartphone dunia makin menyempit saja. Tidak hanya itu, perangkat ini telah memungkinkan umat manusia jadi miskin gerak. Khusus untuk membeli sesuatu, misalnya. Seseorang tak lagi harus berpanas-panasan pergi ke pasar hanya untuk membeli sebungkus nasi goreng, sebab dengan dua-tiga kali sentuh layar gawai, ia tinggal menunggu orang lain mengantarkan hingga ke pintu rumahnya.
Karena smartphone pula koran-koran makin turun oplah cetakan, dan buku-buku kian berdebu di rak-rak perpustakaan sebab sudah jarang dijamah. Budaya kumpul bareng teman-teman yang biasanya jadi ajang tukar kabar penuh ekspresif telah berubah drastis hanya karena semua yang ikut kumpul sibuk dengan gawainya masing-masing.
Tapi dari itu semua, satu yang paling ditakuti para pemerhati gelagat buruk keberadaan smartphone adalah, orang-orang jadi lebih duluan tahu si artis ini meninggal, si aktor itu sekarat karena beritanya dengan cepat tersiar. Sementara di waktu yang sama tetangga di belakang rumah kita juga sudah meninggal atau sekarat dan kita sama sekali tak tahu tentangnya. Sebab, ini menyedihkan sekali, beritanya tak pernah lewat di beranda media sosial, dan kita benar-benar abai dengan segala hal yang terjadi di alam sekitarnya kita.
Entahlah.