Bagi kalian orang Aceh, aku yakin kalian pernah mendengar cerita burong tujoh. Dia begitu melegenda, menempati ‘maqam’ tertinggi dalam dunia per-dedemit-an Aceh. Jauh diatas level ma’op. Mendengar tentang burung tujoh tak jauh-jauh dari soal kengerian. Kawan-kawan sepermainan dahulu mendeskripsikannya dalam berbagai imajinasi yang kadang memancing kencing untuk segera keluar, walau resleting belum sempat terbuka. Aku sendiri tak pernah melihatnya, kecuali hanya mendengar ceritanya dari teman-teman saja. Mendengar ceritanya saja sudah membuat merinding, apalagi berjumpa. Bukannya aku takut, tidak sama sekali. Aku hanya malu berjumpa dengannya.
Nah, hari ini aku tak akan bercerita soal burong tujoh itu. Itu sungguh sulit dan tak mungkin aku bercerita tentang hal yang aku sendiri masih mereka-reka bentuknya. Aku hanya mau menyinggung soal yang sering kubaca narasi-narasi dalam rintihannya. Dalam beberapa hari ini sudah mulai tak terlihat lagi.
yang satu ini tak kalah ngerinya dari legenda burong tujoh yang pernah kalian dengar. Dulu aku tak tau bahwa
yang ini begitu ngerinya saat merintih. Di platform steemit ini lah aku membaca narasi dalam rintihannya.
Aku beberapa kali dibuatnya merinding kala membaca tulisannya. Kadang juga harus tertawa. Selain ngeri, ternyata ini juga lawak. Tapi yang membuatku penasaran, kemana
dalam beberapa hari ini. Adakah seorang dukun sakti yang sudah memasungnya, sehingga dia tak dapat merintih lagi. Empat hari yang lalu, dia masih ‘jak peuleumah droe’ kepada salah seorang penjahit sepatu di kota ini. Mungkin untuk menujukkan bahwa dia masih menghuni rumahnya. Tapi setelah itu, bau menyan pun tak ada lagi.
Sambil menunggu kembali, ada baiknya kita dengarkan rintihan kuntilanak saja dalu. Semoga bisa menjadi pengganti.