Geulayang Tunang adalah salah satu permainan rakyat di Aceh yang dilakukan secara turun temuran. Dalam bahasa Aceh geulayang artinya layang-layang, sedangkan tunang adalah lomba atau pertandingan.
Permainan tradisional ini sering digelar di kampong-kampung setiap habis panen, untuk menghilangkan lelah setelah beberapa bulan menggarap sawah. Pesertanya berasal dari desa-desa terdekat. Layang dilombakan adalah layang Aceh atau layang klueng (layang elang) yang dibuat dari rautan bambu dan kertas.
Dalam Geulayang Tunang kali ini, ada 250 layang Aceh diterbangkan oleh 150 peserta. Layang-layang itu rata-rata berukuran besar.”Pesertanya berasal dari kampung-kampung di kota lhokseumawe dan Aceh Utara,” kata ketua Panitia Pelaksana, Mulyar.
Peserta mulanya mendengar aba-aba dari pantia lewat pengeras suara untuk melepaskan layang-layang ke udara. Dalam tempo 15 menit langit Curieh sudah dipenuhi layang-layang berwarna warni dengan ukuran yang hampir sama.
Mulyar menuturkan peserta Geulayang Tunang diberikan masing-masing 15 menit untuk untuk menaikkan dan, mengulur tali dari gulungan agar layang leluasa terbang. 15 menit selanjutnya diberikan ketika layang sudah pada posisi maksimal di angkasa, peserta harus mengendalikan layangnya tepat di atas kepala.
“Siapa yang bisa mempertahankan posisi layangnya tepat di atas kepala dialah pemenangnya. Jadi lomba ini fair dan terbuka, walaupun ada juri yang menilai tapi penonton juga bisa melihat langsung penilaian juri,” Ungkap Mulyar.