JUJUR saya akui, pada Pilkada Kabupaten Bireuen tempo hari saya tidak memilih pasangan calon H. Saifannur, S. Sos - Dr. H. Muzakkar A. Gani, SH.,M.Si. Tetapi tidak memilih tentu bukan tidak mendukung. Ada alasan personal antara memilih dan mendukung.
Tetapi hari ini setelah pasangan terpilih, terlepas bagaimana cara dia memperoleh kemenangan tersebut, saya akui dia sebagai Bupati saya, saya tak berusaha menegakkan benang basah dengan mengatakan itu bupati 100 ribu (karena ada isu bagi-bagi duit menjelang pemilihan), karena menurut saya Paslon lain juga tidak ada yang bersih 100% untuk memuluskan langkah demi meraih kemenangan. Jadi kita tidak usah munafik lah.
Menurut saya, yang diperlukan sekarang adalah semua komponen masyarakat Bireuen harus kompak mendukung pemerintahan yang sudah disahkan oleh aturan (baca: Undang-Undang). Lupakan sakit hati karena calonnya tidak terpilih, marilah dengan jiwa besar membangun Bireuen. Termasuk tidak mempermalukan pemimpin kita dengan hal-hal yang remeh temeh, seperti menyebarkan foto-fotonya waktu tertidur sejenak saat ada acara resmi. Karena menurut saya tertidur sejenak adalah manusiawi, karena kelelahan (mungkin). Baru kita wajar bereaksi kalau dia menilep uang rakyat.
Jujur, pada awalnya saya merasa agak kurang simpatik dengan sosok H. Saifannur, saya punya kesan jika mantan Keuchiek Paya Meuneng itu adalah sosok yang angkuh. Mungkin seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Tetapi setelah sempat bertamu ke rumahnya dalam kapasitas pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bireuen pada lebaran Idul Fitri lalu, sosok angkuh Haji Saifan demikian ia biasa disapa pun buyar.
Hampir 3 jam saya dan ketua PWI Suryadi terlibat pembicaraan ringan dengan Haji Saifan, dan di antara kami juga hadir Wakil Bupati Bireuen H. Mukhtar Abda, M. Si (kini mantan). Banyak hal yang kami bicarakan, banyak hal yang diungkapkan "anak kampung" ini.
Inti pembicaraan adalah komitmennya membangun Bireuen, ia juga merencanakan Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Bireuen yang terletak di Cot Gapu menjadi kantor rakyat, artinya tiap hari rakyat bila ada keperluan boleh bertandang ke sana, dan H. Saifannur katanya siap menyediakan kopi atau teh, dengan dilengkapi makanan ringan seperti ubi, kacang rebus, dll.
Selain itu komitmennya untuk membangun Rumah Sakit Regional di Bireuen patut didukung, kemudian rencana membangun Paya Kareung menjadi pusat wisata terpadu patut diapresiasi.
Jujur, saya mulai kagum pada sosok ini saat meliput acara pelantikan Bupati Bireuen, pada pekan lalu. Saat H. Saifan berpidato diluar konsep mengatakan tekadnya membangun Bireuen asal "tiada dusta diantara kita" (kalimat ini dua kali diulanginya), entah kenapa hari saya diliputi rasa haru. Saya melihat ada ketulusan yang tidak dibuat-buat. Kalau meminjam istilah Apa Karya, lagena laju (apa adanya).
Sehingga sejak saat itu saya berkomitmen dalam hati saya untuk mendukung pemerintahan ini, karena saya melihat sosok wakilnya juga merupakan orang yang sangat berkompeten, saya yakin di tangan kedua orang ini Bireuen akan mencapai kejayaannya. Insya Allah.
Oleh sebab itu, kepada rekan-rekan saya di Kabupaten Bireuen, saya mengajak mari kita bantu pemerintahan ini, kalau tidak bisa membantu janganlah menggembosi. Sementara kalau melenceng tetap kita kritisi. Demikian. []
Keterangan Gambar : Gubernur Aceh Irwandi Yusuf saat melantik pasangan Bupati dan Wakil Bupati Bireuen H. Saifannur, S. Sos dan Dr. H. Muzakkar Agani, SH., M. Si (Foto/Hamdani)