Rasanya menarik jika bisa mendengar tanggapan para pemanggul amanah dalam pemerintah Aceh sekarang jika mereka sudah membaca novel “Surga Tanah Merah”. Dulu Hikayat Perang Sabil begitu ditakuti oleh pemerintah Hindia Belanda sehingga hikayat-hikayat perang sabil ini disita karena membangkitkan kesadaran rakyat Aceh untuk mengangkat senjata (Alfian, 2003:181).
Lalu apakah novel beraroma kritik politik dan konflik Aceh ini ketika selesai dibaca akan juga disita karena dikhawatirkan membangkitkan kewarasan berpikir untuk melawan tirani? Di era keterbukaan ini novel Arafat Nur tentu tak perlu dikhawatirkan karena novel ini justru bisa menjadi medium berkaca diri dan melakukan kritik demi Aceh yang lebih baik.
Dalam perspektif sosiologi sastra, pada konteks ini kita bisa mempertanyakan, sebagaimana disinggung Faruk, sejauh mana sastra berfungsi sebagai perombak masyarakatnya. (Yusri Fajar)