.
“Aku belum pernah melihat pengorbanan orang yang sebegitu besar hanya untuk menulis sebuah buku. Bertahun-tahun dia mewujudkan impian itu dengan kerja keras. Sejak remaja, setelah menamatkan sekolah tingkat atas, dia sudah membuat rencana, menulis rancangan-rancangan awal, menyimpannya, kemudian hilang. Dia membuat lagi, menyalin ulang ingatannya pada buku catatan baru, lalu entah tercecer di mana; dan berkali-kali begitu. Setelah sekitar dua tahun hidup bersamaku baru dia bisa merampungkan novelnya. Dia mencetak dengan printer, dan mengirimkannya ke penerbit...”
~TEMPAT PALING SUNYI, Arafat Nur
.