Mari kita rayakan, satu hari yang orang mengerti sebagai puisi. Ketika mataku terbuka, melakukan peristiwa biasa, kemudian jalan-jalan ke pasar.
Kupikir, dalam keramaian itu kita bisa menyipakan amunisi yang menggelegar. Mencari daya untuk menelurkan pola pikir yang kadang semakin miskin.
Mari, kita keluarkan. Kita bagikan apa saja. Meski pun kesepian yang siap dibakar. Keheningan yang meninabobokkan jantung. Pada gelap dadamu, atau keterangan yang dirasa lancang. Selamat berjaya di atas karamnya lautan tangisku, sewaktu menulis patah hati, di sentuhan ibu-ibu yang menahan rindu pada anak yang jatuh di pelukan kota orang, atau pejabat yang pura-pura sekarat ketika terjerat korupsi.
Mari, kita menulis apa saja. Atau barangkali aku menuliskanmu, dengan tali-tali yang sudah kupilih jauh hari. Juga kupersiapkan liang untuk memakamkanmu. Biar semesta tahu, di hari orang menghormati puisi aku sedang meributkanmu; bagaimana pembunuhan paling elegan untukmu?