Beliau, Tengku Syauki namanya. Tamatan Dayah. Masih muda. Baru satu anak. Ramadhan tahun lalu nyaris sebulan penuh diundang berceramah di meunasah dan masjid-masjid.
Ramadhan tahun ini, sebulan menjelang, jadwal ceramah sudah penuh. Banyak undangan yang terpaksa ditolak.
“Bapak-Ibu sekalian, kalau saya tidak bicara tentang pahala puasa yang berlipat-ganda itu, apakah Bapak-Ibu akan membelakangi ceramah saya?”
“Tidaaaak….”
Begitulah alakadar gambaran gaya ceramah Tgk. Syauki di bulan puasa yang sudah-sudah.
“Tidak membelakangi ceramah saya, tapi besoknya diam-diam akan meninggalkan puasa?”
“Uuuuu….” (Bersambung)