Aku berputar-putar diantara riak air yang muncul setelah hujan, menambah volume air di halamanku. Aku berpikir keras. Jantung ini tak berhenti berdebar. Akankah aku kembali masuk ke ruangan itu, dimana bekas cinta itu sedang duduk manis diantara keluargaku? Di samping suamiku, dan bercanda dengan anak-anakku?
“Mau apa dia?” Pikirku. Jangan kau jadikan alasan kerinduan terhadap sahabat lamamu yang menuntunmu kesini! Sahabat yang kau rindukan itu adalah suamiku. Tapi aku tersiksa wahai bujang. Atau, tidak hanya itu tujuanmu? Apa kau akan melanggar janjimu? Aku kembali berputar-putar, maju mundur dan sedikit melompat kecil.
“Nda? Kok malah jingkrak-jingkrak di situ? Nggak masuk?” Tiba-tiba suamiku mengejutkan dengan suaranya yang dalam.
“Oh, Bunda sebentar lagi masuk, kok. Cuma tadi agak pusing, jadi pengin menghirup udara sehabis hujan ini.” Aku mengelak.
“Ya sudah, Ayah masuk duluan ya”
“Iya.. sebentar Bunda menyusul.” Kataku.
Aku mencoba menghirup udara segar sebanyak mungkin, lalu menarik nafas panjang dan mulai melangkahkan kaki menuju ruangan, yang bagiku menjadi sangat sempit saat ini.
“HAH.. APA? Eh, maksudku kenapa? Bukankah dia punya keluarga di sini? Bagaimana kalau orang tuanya tersinggung, mengetahui dia menginap disini?” Aku terperanjat mendengar keinginan suamiku, sambil melirik pada lelaki itu.
“Oh, ndak apa-apa, kok. Lagian saya dan Raffi sudah lama nggak ketemu. Jadi banyak yang ingin diceritakan.” Jawab lelaki bujang yang berada tepat di depan mataku.
“Iya, Nda. Ayah juga ingin bercerita panjang dengannya. Banyak hal yang Ayah tidak ketahui selama ia merantau.” Sambut suamiku.
Perutku mulas bukan kepalang, kepalaku pusing. Apa maksudnya? Mengapa ia mengiyakan keinginan suamiku? Mengapa ia datang kesini? Tuhan, tolong hamba! Aku mencoba memberi isyarat, bahwa aku tak menyukainya. Sangat tidak menyukai kedatangannya. Ia adalah dosa lamaku. Dosa terbesarku. Aku tak ingin mengungkit dosa itu lagi. Kehidupanku sudah tenang sekarang.
Tetapi, ia seperti tak mengindahkan isyarat itu. Ia masih saja bercerita panjang lebar dengan suamiku. Entah apa isi pembicaraannya, aku tak lagi menyimak. Aku mulai berpikir keras, bagaimana kalau ia datang dengan niat tak baik? Bagaimana kalau ia ingin menghancurkan hati suamiku, atau membuat keluargaku hancur? Tak bisa!! Ini tak bisa dibiarkan. Tapi apa yang harus aku lakukan?
Sampai dengan keberanjakan kami di ruang tamu, aku tak menemukan ide apapun untuk mengusirnya. Suamiku mempersiapkan sebuah kamar untuknya. Sedangkan aku mendekam di kamar saja. Tak lama kemudian, suamiku masuk ke kamar. Kulihat ia begitu berwibawa, tenang, dan menenangkanku. Ingin sekali kupeluk ia saat itu juga, dan mengungkapkan kegalauanku saat ini. Tapi aku tak sanggup.
Kubiarkan ia menuju kamar mandi. Sementara itu, hatiku masih saja tak menentu. Ahh, sebuah dosa lama. Ya, dosa lama yang membuat aku tak bisa tidur malam ini. Akhirnya, aku hanya bisa pasrah di dalam kamar, dan melihatnya menuju keluar. Aku mencoba mengintip dari jendela kamar. Kulihat bujang itu telah menunggu di halaman belakang. Selang beberapa waktu, suamiku datang. Mereka mulai bercerita tentang banyak hal yang tidak bisa kudengar dari dalam kamar.
Di kamar yang biasanya menjadi tempat favoritku ini, aku mulai mencoba berpikir lagi. Hanya ada satu jalan keluar untuk menghadapi kegalauan ini. Yaitu, menceritakan semuanya kepada suamiku, sebelum ia mendengarnya dari orang lain.
Malam ini, ketika suamiku kembali ke peraduan, aku menatapnya. Wajahnya tak berubah. Ah, mungkin hanya pikiran burukku saja. Tak mungkin si bujang itu menceritakannya. Aku mulai ragu untuk mengungkapkan semua kegalauanku padanya. Tidak! Tidak bisa begini, ini tak adil bagi suamiku. Ia harus tahu. Ya benar, ia harus tahu dosa besarku. Aku mulai menghampirinya.
“Yah, sudah mau tidur?” tanyaku.
“Belum, kenapa, Nda?” tanyanya sambil tersenyum.
“Ada hal yang ingin Bunda ceritakan dengan Ayah. Sebab, galau sekali hati Bunda seharian ini.” Aku mulai membuka pembicaraan.
“Ayah sudah tahu apa yang akan Bunda ceritakan. Ayah sudah tahu sejak lama, dan Ayah tahu bagaimana perasaan Bunda sekarang.” Aku terkejut bukan kepalang
“Maksud Ayah? Ayah tahu kalau dulu Bunda pernah melakukan dosa itu dengannya, sebelum menikah denganmu?” tanyaku lagi.
“Iya, Ayah sudah tahu. Sebelum menikah dengan Bunda, Ayah sudah mencari tahu semua tentang Bunda, dan Ayah rasa itu hanya masa lalu. Hanya saja, Ayah masih menunggu kapan Bunda bercerita seperti ini. Hari ini ayah senang dengan pembicaraan kita.”
“Lalu, apakah Ayah memaafkan perbuatan Bunda?” tanyaku.
“Bunda ini polos sekali. Tentu saja, dong. Lagi pula itu hanya kenakalan masa remaja. Bunda melakukannya juga karena ingin eksis diantara pergaulan dan cinta, kan? Mencuri makanan di sebuah supermarket, walau itu tak terpuji. Tapi Ayah yakin, hanya sekali itu Bunda melakukannya. Dan Bunda melakukannya karena ajakan teman dan dia, kan?” Suamiku mulai menunjukkan kewibawaannya.
“Iya, Ayah. Bunda ingin sekali menceritakan kejelekan itu. Tapi Bunda takut Ayah tak lagi menilai Bunda mengagumkan. Bunda selalu merasa bersalah dengan kejadian itu. Dulu bersama dia dan beberapa teman di sekolah, Bunda mengambil beberapa makanan di supermarket tanpa membayarnya.” Jelasku kemudian. Suamiku menghampiri dan duduk di dekatku.
“Inilah, yang Ayah suka dari Bunda sejak dulu, bahwa dosa seperti apapun, membuat Bunda begitu merasa bersalah. Ayah jadi percaya kalau Bunda tak akan melakukan dosa yang lebih dari itu.” Aku mulai menundukkan kepalaku, sedang tangannya menarikku dalam pelukannya. Aku merasa nyaman dengan keterusterangan ini. Ya, dosa itu akhirnya dapat aku ungkapkan.