Minum kopi atau biasanya kerap disebut ngopi merupakan tradisi bagi orang Aceh, apalagi di Bireuen, Matang khususnya, warung kopi bisa sangat mudah di jumpai di setiap sudut jalan. Kita bisa bersantai sampai berjam jam lamanya di warung kopi sambil bertukar cerita atau hanya sekedar cari wifi gratis saja, hehe.
Bagi saya dan teman yang satu ini, , kebiasaan ngopi sudah menjadi kebiasaan yang tergolong wajib, dalam sehari pasti ada pesan ajakan yang berbunyi, "yak ngop?" (artian indonya, "yuk ngopi?". Hampir setiap hari ke warung kopi biarpun yang dipesan cuma segelas kopi pancong, tapi untuk menyeruputnya sampai habis membutuhkan waktu berjam-jam, entah itu karna kopinya, entah pula memang kebiasaan kami yang suka nagkring berjam-jam. Rasanya hilang semua penat atau suntuk ketika berada di warkop. (Kedengarannya seperti orang yang kurang kerjaan saja) haha..
Namun sepertinya kebiasaan itu sudah sedikit hilang dikalangan pemuda jaman now, remaja kekinian dan bahkan cabe-cabean yang katanya tidak mau di cap pedas, saat nangkring atau nongkrong di salah satu tempat yang dinamakan cafe. Bagaimana tidak, kita pastinya sering mendengar ajakan-ajakan seperti, "ngopi yuk?" atau "ngopi dimana kita malam ini, gaes?", tapi saat sampai ditujuan (tempat ngopi yang dituju) bukan kopi yang dipesan, malah aneka jus atau minuman lainnya. Persepsi inilah yang seharusnya bisa kita luruskan. Ini yang sering terjadi kala sebuah ajakan ngopi itu dilakukan.
Kalo ngajaknya ngopi ya minumnya kopi, kalo ngajak ngejus baru minum jus, kalo ngajak nikah ya menikah, jangan sampai ngajak nikah tapi ujung-ujungnya malah kembali kepelukan mantan terindah. Haha..
Kok malah lari ke pembahasan menikah, hadeuuh.
Udahlah ya, jangan lupa ngopi. 😊☕