Malam ini malam pertamaku ngopi setelah semingguan ini aku tak pernah keluar malam. Pasalnya istriku ke luar kota sebagai utusan sekolah tempatnya mengajar untuk ikut pelatihan guru.
(Dokumentasi pribadi)
Praktis selama seminggu ini aku cuma di rumah saja menemani kedua anakku yang masih kecil-kecil. Sebenarnya beberapa malam timbul hasrat untuk keluar ngopi sekalian mengajak mereka (anak-anak).
Tapi dua alasan membuatku terpikir untuk mengurungkan niat mengajak mereka ke warkop pada malam hari. Pertama, karena mereka biasanya suka mengantuk pada jam-jam 20-an. Kedua, suasana warkop pada malam hari biasa terlalu ramai, bukan hanya ramai orangnya, tapi juga kabut asap rokok yang tentu saja akan membuat mereka tidak nyaman.
(Dokumentasi pribadi)
Malam ini aku ngopi sendirian, dan memang sudah terbiasa sendiri. Kadangkala ada kawan seperti Pidar dan Nasrol yang menemaniku ngopi di tempat biasa, tapi malam ini keduanya tidak terlihat.
Di warkop tempat biasa ini kopi atau sangernya enak, dan harganya juga murah meriah, pelayannya pun sigap dan ramah. Segelas kopi harganya Rp. 4000, dan Rp. 2000 untuk kopi pancung, sedangkan kopi sanger Rp. 5000, kalau pancung lebih murah lagi Rp. 3000. Maka tidak heran warkop Lom Kupi ini selalu penuh pagi, siang dan malam.
(Dokumentasi pribadi)
Ketika ekonomi sedang sulit, harga-harga menjadi mahal, Lom Kupi ini semacam pelipur lara bagi banyak orang karena harga menu minumannya yang tidak membuat sakit mata (pencaharian).
Jika saudara-saudara Steemian di kota Lhokseumawe belum pernah kemari, boleh dicoba sekali apalagi berkali-kali. Karena sudah tentu pemilik warkop senang, dan mana tau kita jumpa sekalian berbagi cerita 😁