Rasanya sakit perut melihat wajah-wajah tegang para personil ketika hendak presentasi dan bermain musik di panggung Rumah Panas Dalam, Bandung. Bisa terbayang bagaimana tekanan mental yang harus mereka hadapi ketika harus pentas di tempat idola mereka sendiri, yang juga sekaligus sudah menyandang nama besar di seluruh nusantara. Bahkan Kak
dan
yang mendampingi mereka pun nampak stressnya.
Foto bersama dulu sebelum pentas. Foto :
Saya dengan sengaja datang sudah menjelang waktu mereka tampil, walaupun saya bisa datang lebih cepat. Boleh dibilang jahat, boleh dibilang kejam, saya ingin sekali mereka bisa mengatasi diri mereka menghadapi situasi yang berbeda. Ini bukan pertama kali mereka tampil di kota Bandung, tetapi ini adalah pertama kalinya mereka harus tampil di hadapan para seniman Bandung seperti Panas Dalam. Kalau mereka mampu lolos menghadapi ujian ini, maka saya bisa lega karena itu bisa membuktikan mereka memang memiliki mental seniman musik yang terhormat, yang bukan hanya sekedar mencari panggung dan ingin top.
Semalam sebelum pentas, , salah satu personel
berbincang bersama saya dan Kang Budi, manajer Panas Dalam dan Pidi Baiq. Beliau bercerita panjang lebar tentang bagaimana kerja keras dan berdarahnya Panas Dalam sebelum menjadi seperti sekarang ini. Dicerca, dimaki, dihina itu sudah biasa. Pernah pentas pula hanya ditonton oleh satu orang saja, yang lainnya kabur, itu pun karena orang tersebut tidak mengerti apa-apa. Mas Budi meminta agar
bisa terus berkarya dan tidak mati dalam berkarya, walau dalam situasi apapun. Lagi-lagi urusannya mental!
Apache ketika presentasi dan bernyanyi di Warung The Panas Dalam, Bandung. Foto: .
Ketika tampil, mereka memang tampak agak sedikit tegang, suasana dan kondisi serta budaya yang berbeda tentu berpengaruh. Jadi wajar saja kalau mereka sedikit kikuk dan tidak lepas seperti biasanya. Tetapi, alhamdulillah mereka bisa terus tampil tanpa ada kendala hingga selesai. Walaupun masih kelihatan tegangnya usai tampil, tetapi patut saya akui mereka punya mental yang kuat.
Kak pun ternyata masih terbawa tegangnya. Wajar juga karena kakak satu ini pasti ingin sekali adik-adik kesayangannya ini bisa sukses dan hebat, sampai membuat live performance
di akun Facebooknya. Senewen juga dia karena barangkali tidak pernah menghadapi situasi seperti itu dan belum tahu. Bersama
mereka berdua pun masih memikirkan seharusnya ada ini itu untuk membantu
. Baik sekali mereka berdua ini!
Tampil bersama personel The Panas Dalam. Foto .
Setelah pentas, saya pun lalu menunjukkan isi twitter yang memberikan dukungan kepada
. Ada raut senang dan sedikit lega di wajah semua, tetapi tetap belum lepas juga. Sampai kemudian saya meminta semua untuk masuk ke dalam dan mengucapkan terima kasih kepada seluruh tim Panas Dalam yang sudah memberikan kesempatan. Pidi Baiq pun kemudian muncul dan menyambut dengan penuh keramahan, sampai kemudian terucap sepakat untuk berjumpa kembali esok harinya agar dapat berbicara soal kelanjutan dari pentas
tadi. Saya sudah senyum-senyum saja. Walaupun tidak pakai basa basi kelihatan manis di depan, tetapi jelas sekali dukungan kepada
. Ini bagus! Daripada manis di depan menikam di belakang, apalagi pakai kaki tangan orang lain, nggak banget, deh!!!
Salah satu bentuk support dari Steemian KSI Banda Aceh
Setelah itu barulah muncul anggota Panas Dalam, memang hanya gitaris aslinya saja yang keluar ke panggung, tetapi semua yang kemudian tampil bersama adalah anggota dari Panas Dalam. Mereka bernyanyi bersama dan nampak kebahagiaan itu muncul. Wajah yang tadinya tegang itu pun kemudian berubah menjadi tenang dan bahagia. Saya pun jadi tak tahan untuk tertawa, ujian mental itu memang bikin stress ya! Lulus, kok! Keren!!! Hahaha….
Saya bahagia karena ini bukan hanya momen penting bagi , tetapi juga bagi promosi Steem. Banyak para Steemian di Bandung, yang berasal dari mahasiswa Aceh bermunculan. Para pengurus dari ikatan mahasiswa Aceh, seperti
selaku ketua IKAPA dan
ketua dari IKAPI pun pasti makin semangat mempromosikan Steemit. Senior mereka yang sudah lulus, seperti
, juga Riza yang juga hadir langsung terbang dari Aceh, pasti jadi lebih mudah mengajak adik-adik junior mereka masuk bergabung di Steemit. Dalam waktu dekat ini semoga akan segera ada acara promo Steem di mahasiswa Aceh Bandung, agar bisa lebih menyebar lagi Steemit ini di mana-mana dan semakin banyak juga Steemian yang hadir bergabung.
Beberapa orang mahasiswa Aceh di Bandung yang sudah daftar dan masuk ke Steemit. Foto :
memang tidak pernah lupa dengan Steemit dan para Steemian yang selalu mendukung mereka. Lagu “Upvote” juga sebelumnya dinyanyikan oleh
di panggung sebagai penghormatan kepada seluruh Steemian dari Indonesia. Tentunya ini patut diapresiasi, jarang-jarang ada group musik yang ketika tampil presentasi dengan situasi dan kondisi seperti yang saya ceritakan di atas, masih mau membawakan lagu khusus bagi Steemian. Luar biasa banget, deh!
Buat saya pribadi juga, inilah pembuktian bahwa memang benar ingin maju dan sukses dalam berkarya. Mereka tidak mati walaupun harus berhadapan dengan situasi dan kondisi yang sungguh tidak nyaman. Mereka tetap saja terus usaha dan tidak takut. Mau dihargai, kek, ditindas kek, karya terus saja dibuat dan maju terus. Sebab memang tidak ada yang bisa mematikan seseorang yang memang benar berniat, tulus dan ikhlas dalam berkarya, selain dirinya sendiri. Mental yang lemah dan banyak maunya serta terlalu berharap, itu yang membuat orang mati dalam berkarya. Padahal, yang buat kecewa itu, kan harapan dari diri sendiri, dan yang membuat semakin lemah itu karena terlalu banyak maunya, yang juga dari diri sendiri. Coba bahagia dan tenang saja dalam berkarya, pasti hasilnya akan berbeda. Yang mampu memotivasi diri sebetulnya diri sendiri, berharap pada orang lain ya akan kecewa sendiri.
Seperti juga dalam pembicaraan bersama yang juga hadir menyaksikan
. Beliau adalah seorang penulis yang sudah mau menerbitkan buku ke-8, dan beliau berasal dari Aceh walau sekarang sudah menetap di Bandung. Beliau juga adalah lulusan Teknik Nuklir dari UGM, yang pernah merasakan menjadi mahasiswa Aceh yang tinggal di asrama Aceh di Bandung dan Yogyakarta. “Saya tidak mau meminta dan mengemis upvote, saya menulis, ya menulis saja. Rasanya tidak nyaman bila menulis karena untuk mendapat upvote, menulis ya menulis saja tidak peduli siapa, menulis itu karena memang niat menulis saja,” kata beliau yang juga sering mengajar melukis, pernah membuka sekolah melukis di Aceh, dan senang juga bermain musik. Keren ya! Sarjana Teknik Nuklir kampus terkenal, mau bersusah payah menjadi seniman karena memang niat dan jiwanya seniman, pantang menyerah dan terus saja maju. Beugh! Angkat jempol!!!
Tanggal 18 Maret nanti akan tampil di Sabuga, ITB dan lanjut lagi pentas di Yogya minggu depannya. Saya sekarang merasa semakin senang dan bahagia, tidak perlu ada yang meragukan
. Mental dan jiwa mereka memang kuat dan besar. Semoga terus semakin berjaya membawa nama baik dan kehormatan bersama, sekaligus membantu menyebarkan kebaikan guna manfaat Steemit bagi perubahan dan masa depan yang lebih baik. Yuk, kita sama-sama doakan! Bismillah!
Road to success for di bulan Maret 2018. Acara di Yogya diundur menjadi tanggal 21 Maret 2018, karena
yang memberikan support kepada
mau mengajak dulu jalan-jalan keliling Yogyakarta sekaligus memberikan kesempatan istirahat agar bisa tampil paripurna di Yogyakarta. Komunitas yang saling mendukung memang membuahkan hasil yang luar biasa, bukan hanya sekedar upvote, tetapi di dunia nyata pun bisa memberikan yang lebih banyak. Foto :
,
.
Ayo para seniman muda! Beranikan diri dan berbesarlah jiwa dalam berkarya! Terus maju dan jangan mudah menyerah! Kesempatan itu tidak datang diminta tetapi datang karena kita sendiri yang membuka kesempatan itu datang!
Bandung, 14 Maret 2018
Salam hangat selalu,
Mariska Lubis