Selamat hari sabtu steemian. Sudah ada rencana kencan nanti malam? Hehehe
Semoga selalu sehat dan tetap semangat yaa.
Kali ini saya kembali lagi dengan artikel yang kece badai dan mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua ya
Lagi-lagi diskusi, lagi-lagi diskusi. Apa gak bosan diskusi melulu? Nah! Begitulah kira-kira pertanyaan yang dilontarkan oleh para pelaku media sosial yang hidupnya dihabiskan dibalik layar smartphone dan monitor komputer.
Bukan tanpa alasan, pertanyaan tersebut keluar spontan dari lidah nakal yang kehidupan sosialnya sangat memprihatinkan.
Mereka berpendapat pedas tentang diskusi yang berkonteks apapun.
Siapa yang patut disalahkan? Mereka atau kita?
Nah! Sahabat steemit, kemauan seseorang dalam mendapatkan ilmu dari metode diskusi sangatlah jarang kita temui di era digital seperti sekarang ini ya guys.
Kecanggihan teknologi dan kemudahan akses internet adalah salah satu faktor utama malasnya beberapa individu melakukan diskusi.
Tak ada yang patut disalahkan, marilah kita introspeksi diri masing-masing dalam konteks kemauan dan gigih untuk menuntut ilmu tapi tidak meninggalkan kehidupan nyata yang kemudian pengaruhi kehidupan sosial.
Sejatinya guru terbaik bukanlah buku ataupun bahan bacaan lainnya seperti yang bisa kita ambil di media masa atau media elektronik manapun. Ada yang mengatakan bahwa bukulah guru terbaik. Kenapa? Karena buku tidak bisa memarahi dan menasehati kita? Hahahaa sungguh sempit pemikiram tentang itu.
Guru terbaik adalah pengalaman. Karena pengalaman kita jadi kuat, karena pengalaman pula mental dan mindset kita ditempa terus sekeras batu.
Diksusi adalah salah satu mediasi penguat pengalaman, diskusi pula yang selalu menjadi awal cakrawala keilmuan terbentuk.
Memang benar ilmu bisa dipetik mulai dari orang hebat sampai dari seorang kriminal. Ilmu itu bukan berupa materi yang berbentuk 3 dimensi yang bisa dipamerkan kemanapun dan kepada siapapun. Ilmu itu berupa kumpulan informasi-informasi yang terpecah-pecah menjadi beberapa potongan kecil yang mengambang pada alam bawah sadar kita.
Nah! Tergantung bagaimana bijaksananya kita menyikapi informasi tersebut bahkan dari seorang kriminal.
Jadikan diskusi sebagai bentuk wadah keilmuan yang kompleks dan terorganisir secara solid. Jangan sampai mediasi ini tercoreng oleh diskusi-diskusi yang berbentuk sara ataupun mengajak orang-orang untuk melakukan aksi ujaran kebencian.
Itu sejatinya akan membahayakan banyak pihak dan tentunya kita sendiri.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai hobi, dan hobi mencintai.
Terimakasih kepada seluruh sahabat Komunitas Steemit Indonesia yang telah mencetak steemian-steemian berbakat dan punya nilai guna yang cadas.
Hormat saya kepada dan
selaku Leadership Steemit Community of Indonesia dan sebagai kurator indonesia, karena selalu berkontribusi penuh kepada seluruh user platform steemit yang berbasis blockchain ini.
Salam Hangat