Bebas Terkawal
Pemikir yang baik sudah pasti pintar, atau memiliki basis ilmiah yang cukup untuk mengawal pikirannya tetap di dalam koridor ilmiah, meskipun orang-orang lain belum siap untuk pikiran-pikirannya yang mungkin melampui eranya pada saat itu. Einstein pernah dianggap pikun dan bahkan hilang akal, karena pendapat-pendapatnya. Namun seiring waktu, satu persatu pendapat gilanya itu menemukan momen. Einstein adalah orang pintar, itu basisnya. Dan dia menggunakan kepintarannya untuk berpikir dan mengawal pikirannya, dan pada saat yang sama dia juga membebaskan pikirannya itu untuk menelusuri setiap sudut ruang ilmiah yang belum terjangkau.
Tetapi perjalanan sains memang terpatri dalam riwayat bangunan-bangunan filsafat: semua bermula dari tesis (pikiran/pendapat), yang diuji oleh antitesis-antitesis (bantahan), yang antitesis-antitesis itu pun akan dibantah lagi oleh pendapat-pendapat yang pro kepada tesis awal, begitu terus sampai proses bantah membantah ini berakhir pada kesimpulan bahwa thesis awal adalah benar atau salah, bisa juga berakhir dengan lahirnya thesis baru di mana proses bantah membantah menemukan episode barunya, sampai suatu saat sebuah kesimpulan tak terbantahkan lagi dan diterima sebagai sebuah kebenaran ilmiah. Proses ini bisa mengambil waktu yang tidak tertentu, bisa dalam waktu singkat, bisa juga lintas generasi.
Apakah penerimaan sesuatu sebagai sebuah kebenaran ilmiah adalah ujung dari perjalanan bangunan ilmiah terhadap suatu isyu atau thesis tertentu? Tidak! Itu akan diterima sebagai kebenaran sampai muncul sanggahan berikutnya yang membuktikan bahwa itu tidak benar, dan bangunan kebenaran ilmiah tadi pun dipugar kembali, dicabik-cabik lagi dalam proses bantah membantah, karena kebenaran ilmiah memanglah harus sesuatu yang tidak menyisakan ruang keraguan sedikitpun, setiap keraguan harus dipuaskan. Jadi ingat satu bait lagu dari grup band DeWA dalam lagu Hidup Adalah Perjuangan, yakni "Kebenaran hari ini bukanlah berarti kebenaran esok hari. Kebenaran bukanlah kenyataan." Hehe. Jadi, jangan takut untuk membantah dan mengajukan pertanyaan, karena itu suatu tanda bahwa otakmu sedang bekerja. Karenanya, berikan bantahan dan/atau pertanyaan terbaikmu untuk komentarku ini. Ayo. Kutantang kamu . Jika bantahan dan/atau pertanyaanmu mampu membuatku senang, 0.5SBD akan kukirim ke dompetmu, plus upvote. Aku gitu orangnya. 😊😊
Maaf, ini memang sudah banyak melenceng dari topik juga pendapat. Dan mohon ijin kepada untuk saya menyelenggarakan tantangan di dalam kontesmu, bukan maksudku membuka kedai di dalam kios, hanya ingin membuat ini menjadi lebih menarik. Salam hormat.
RE: PINTAR BUKAN BERARTI PEMIKIR