Tulisan ini hadir karena pertanyaan tentang bagaimana menulis dengan mudah dan lancar. Sebenarnya tak ada yang benar-benar mudah. Semua hal menjadi besar berangkat dari padatnya laluan pengalaman, kebijaksanaan, dan ketekunan. Itu berlaku untuk semua hal.
Tidak ada peraih medali emas di SEA Games 2017 di Malaysia yang mendapatkannya dengan mudah. Atlet Wushu, Lindswell Kwok, mendapatkan rentetan prestasi setelah melewati maraton latihan, rasa sakit, pantang menyerah, dan terus memperbaiki diri dari setiap keping waktu dan usaha. Orang boleh bilang SEA Games Malaysia ini banyak curang, tapi itu tidak berarti apa-apa di dalam diri pemenang.
Orang seperti Kwok ini tidak mencari-cari alasan. Ia menang dengan elegan tanpa harus menuduh kiri-kanan curang. Dari pribadi seperti inilah prestasi dan sejarah lebih mudah didapatkan, dibandingkan para penggerutu dan pengutuk suasana.
Kembali tentang bagaimana menulis baik dan “mudah”, saya ingin berbagi dari kalimat yang dituliskan Friedrich Nietzsche. Filsuf Jerman itu dalam karya fiksi filsafatnya, Thus Spoken Zarathustra (Also Sprach Zarathustra), menulis , “tidak ada yang aku sukai kecuali sesuatu yang dituliskan dengan darah”.
Arti kalimat dalam buku yang ditulis pada 1891 itu ialah, tidak ada tulisan yang akan menjadi sejarah kecuali memang dituliskan dengan rasa menggelegak sehingga membuatnya hidup dan bernyawa. Ada “darah” dan “daging” di dalam tulisan itu. Nietzsche – Seno Gumira Adjidarma pernah menuliskan tokoh ini dalam sebuah cerpennya dengan menyebut filsuf dengan sembilan huruf – menjadi contoh penulis yang kata-katanya paling banyak dikutip para para ilmuwan, sastrawan, agamawan, hingga pembaca populer. Yang paling populer sebagai “pengikut” Nietzsche adalah Martin Heidegger, Jean Paul Sartre, Michel Foucault, Franz Magnis-Suseno, Nurcholis Madjid, ST Sunardi, J. Haryatmoko, dll.
Saya selalu terngiang-ngiang kalimat itu. Karya Nietzsche sendiri juga meletap-letup dalam setiap kalimatnya. Membaca karya-karyanya yang kaya akan aforisme – kalimat yang memadat seumpama puisi – membuat kita pembaca tidak pernah bosan. Selalu ada ruang tafsir bagi pembaca untuk bisa mencerna dan meumoh-moh tulisan Nietzsche yang juga dianggap bapak posmodernisme itu.
Maka, tak ada tulisan yang memiliki darah kecuali kita menuliskannya dengan penuh kesadaran – seserhana apapun tulisan itu. Syarat lainnya adalah tulisan harus kita kuasai.
Pengertian “kuasai” ialah ia berasal dari apa yang kita tekuni di bangku kuliah atau proses belajar lainnya. Tidak musti yang dipelajari di bangku kuliah membuat kita profesional dengan pengetahuan itu. Orang seperti Sudjiwo Tedjo yang menjadi dalang atau Nirwan Arsuka yang menjadi cerpenis dan pengamat kebudayaan, kuliahnya malah di Teknik, sesuatu yang agak jauh dengan dunia kata dan kesenian yang penuh metafora. Darimana pengetahuan mereka sehingga bisa menjadi “profesional”? Ya dari proses belajar sendiri atau bergaul dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama. Pendidikan, apalagi pendidikan tinggi bisa menjadi terowongan, tapi itu bukan satu-satunya jalan.
“Penguasaan atas sesuatu” menjadikan kita untuk tidak menuliskan hal-hal yang tidak kita kuasai. Namun, sekaligus juga menghubungkan pada dunia pengetahuan lain sepanjang batas-batas yang wajar dan masuk akal.
Abdillah Toha dalam tulisan “Politik Paranoid” (Kompas, 23/8/2017) mendaraskan tulisan itu dari aspek filsafat, politik, dan ekonomi. Abdillah Toha dikenal sebagai penulis etika politik, tapi narasi ekonomi di dalam tulisannya itu berangkat dari postulasi politik ekonomi dan bukan ekonomika-statistika an sich. Jadi tetap sah, sekaligus memperkuat tulisannya. Tulisan itu sendiri bicara tentang banyaknya politik ketakutan dan pesimisme yang dimunculkan orang yang ingin mendelegitimasi kekuasaan Jokowi.
Saya sendiri memiliki beberapa kompetensi menulis yang sebagian besar tidak saya dapatkan di bangku kuliah. S1 saya adalah Perbandingan Mazhab dan S2 Kajian Budaya. Pengetahuan demokrasi, ekologi, politik, etnografi, pluralisme, dan sastra saya dapatkan dari kegemaran membaca isu itu dan bergaul dengan para begawan, termasuk mempertajamnya dengan referensi kekinian. Menjadi penceramah, pengajar, dan peneliti terutama pada tema-tema itu mengharuskan saya membaca dan menganalisis lebih banyak dari orang lain, agar membuat saya bertenaga. Jadi menulis dari pengalaman kita membaca dan mempertajamnya dengan analisis adalah bagian syarat penulis profesional. Membaca karya filsafat juga sangat bermanfaat untuk menjadikan kalimat dan kata kita terstruktur sekaligus meledak di saat yang diperlukan.
Meskipun demikian saya tidak berani melewati batas untuk mengkaji masalah ekonomi, teknologi, pertanian, fotografi, geografi, bioterorisme, dan seismologi karena saya agak jauh dengan dunia itu. Apakah saya tidak boleh menulis hal-hal seperti itu? Siapa yang melarang? Bapak antropologi dan etnografi dunia seperti Bronislaw Malinovski atau Frans Boaz, disiplin pendidikan mereka malah fisika dan matematika yang mereka tekuni hingga tingkat doktoral. Namun mereka bisa menjadi “pemikir yang lain” dari pendidikan formalnya, berangkat dari minat dan gairah yang besar. Mereka “mendarahinya” dengan membaca dan meneliti.
Namun ketekunan pada satu bidang atau beberapa bidang yang disempitkan juga tidak jelek. Saya suka konsistensi pada isu lingkungan dan deforestasi, yang menunjukkan ia memang memiliki darah untuk menuliskan masalah itu. Ingat, dalam menulis, apalagi menulis artikel diperlukan fokus. Meskipun kecil saja scope-nya, tak masalah. Kedalaman lebih diperlukan dalam menulis dibandingkan keluasan. Cinta yang mendalam kan lebih menggetarkan pasangan dibandingkan cinta yang meluas, termasuk meluaskan pasangan alias poligami.
Jadi, tulislah yang Anda kuasai, dan kuasailah apa yang Anda tuliskan. Jangan sampai tertinggal menjadi mantra karena Anda menuliskan sesuatu yang tidak diketahui secara benar. Jangankan memberi tahu ke orang, Anda sendiri saja keblinger menjelaskannya. Jadi menuliskan sesuatu yang sederhana lebih baik dan elegan asalkan mendalam, sehingga pembaca mendapatkan susuatu dari sana.