Pernah dengar nama Pande Sikek?
Belum?
Tapi ingat uang lima ribuan emisi 2001 ini kan?
Nah, di situ tertulis ‘Pengrajin Tenun, Pande Sikek, Sumatra Barat’. Itulah dia, Pande Sikek adalah sebuah nagari/desa di Sumatra Barat yang tersohor karena kerajinan tenunnya.
Pesona Songket Minang
Pande Sikek sendiri artinya pandai bertenun. Jadi di desa Pande Sikek ini, penduduk wanitanya memiliki kepandaian menenun yang diwariskan secara turun menurun. Sementara itu, kaum pria sangat trampil membuat ukuran kayu. Hasil karyanya banyak dipajang di toko-toko suvenir di desa tersebut.
Ikhwal trampilnya wanita Pande Sikek menenun berawal pada pertengahan abad ke-14 di mana pihak kerajaan Pagarruyung saat itu mewajibkan rakyatnya untuk memakai tenun saat upacara adat. Karenanya, gadis-gadis masa itu menenun sendiri baju untuk pernikahannya. Saking tersohornya kepandaian para wanita di nagari ini, sampai-sampai ada ungkapan yang menyatakan bahwa jika seorang wanita tidak pandai menenun, pasti bukan wanita Pande Sikek.
Memasuki sebuah toko suvenir, mata saya berbinar-binar melihat banyak songket dalam berbagai warna. Benang-benang emas dan perak berpadu cantik dengan warna-warna solid seperti merah, marun, biru, ungu, dsb menghasilkan sebuah karya yang patut untuk dikagumi. Harga selembar songket ini bervariasi, mulai dari yang ‘hanya’ beberapa juta sampai puluhan juta. Wow... Semua ini tergantung pada bahan dan tingkat kerumitan saat membuatnya. Motif yang kecil-kecil tentu saja memerlukan lebih banyak waktu untuk menyelesaikannya. Karenanya harga songket jenis ini umumnya mahal-mahal.
Tak heran sih kalau harganya selangit begitu karena proses pembuatan songket ini memakan waktu yang lama karena helaian benang-benang tipis itu ditenun satu persatu secara manual. Dalam sehari, seorang perajin ‘hanya’ mampu menenun maksimal 7 cm saja. Widiih....lama sekali ya selesainya.
Di toko suvenir ini kita dapat melihat langsung proses penenunan sebuah songket. Tapi sayang saat saya singgah, penenunnya sedang tidak ada di tempat. Tapi seperti inilah penampakan ‘alat perang’ penenun Pande Sikek.
Luar biasa ya kesabaran para penenun. Berapa ribu benang yang harus dia satukan untuk menghasilkan karya yang indah.
Kain songket yang diproduksi perajin Pande Sikek tak melulu dijual dalam bentuk lembaran. Di toko suvenir ini, kain songket dikreasikan menjadi dompet, tas jinjing, clutch bag, selendang, dan produk berukuran kecil lainnya. Selain itu, ada juga berbagai macam cinderamata yang cocok dijadikan buah tangan.
Alam Yang Memikat
Selain songket, suasana desa Pande Sikek sangat asri dan indah. Hamparan sawah bertingkat menghijau membuat mata yang memandang seketika menjadi adem. Di antara sawah-sawah itu, petani membuat gubug-gubug untuk sekedar melepas lelah. Saat cuaca cerah, biru langit sangat kontras dengan hijaunya tetumbuhan.
Gunung Singgalang yang tampak jelas menambah kesan epik suasana desa ini. Gunung Marapipun tak mau kalah menunjukkan pesonanya.
Udara terasa segar. Oksigen seolah berdesakan ingin masuk memenuhi paru-paru. Ini adalah suasana tipikal desa-desa di Sumatra Barat. Sayang saya tidak pandai mendeskripsikan dengan kata-kata. Yang jelas, desa-desa di propinsi ini menyejukkan mata dan menyegarkan paru-paru. Tak bosan rasanya berlama-lama.
Oleh sebab itu, desa-desa seperti Pande Sikek ini sukses merebut hati para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Termasuk saya yang langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pada desa ini. Aw...
Terima kasih sudah singgah di blog dan membaca tulisan saya. Jika sahabat Steemit suka, silahkan upvote, dan resteem jika mau. Saya sangat menghargainya.
Please follow for more posts about sewing crafts, kids, travel, cultures, and other fun stuff