Halo sobat Steemians, apa kabar?
Kali ini saya ingin bercerita pakai bahasa ibu aja, karena isi tulisannya memang ditujukan untuk publik Indonesia.
Kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman saya waktu harus praktikum di perusahaan yang memproduksi dan melakukan ekspor-impor sparepart mobil, bus dan truk. Di Indonesia mungkin sebagai pembanding adalah KKN. Untuk kuliah di bidang berbau teknik (saya ambil jurusan Teknik Industri) biasanya akan diwajibkan melakukan 2 bulan “Vorpraktikum” atau praktek kerja, sebelum boleh mendaftar di Perguruan Tinggi, dimana disitu kita diberikan daftar yang berisi pengalaman teknis macam apa aja yang harus dipelajari dan dikuasai supaya nantinya dalam masa studi tidak mengalami banyak kesulitan dalam memahami mata kuliah tertentu dibidang teknis. Dan nantinya diakhir masa studi, sebelum diperbolehkan mengerjakan skripsi mahasiswa diwajibkan terlebih dahulu menyelesaikan masa “Praktikum” atau KKN selama 6 bulan.
Disini saya ingin bercerita tentang perbedaan-perbedaan yang saya jumpai di lingkungan kerja di Jerman dengan di Indonesia, karena sebelum pindah di Jerman dulu saya sudah pernah kerja selama 8 tahun di perusahaan farmasi. Ini tentunya berdasarkan penilaian subjektif saya, meskipun saya rasa, hasil observasi saya termasuk sudah mewakili gambaran yang ada di dunia kerja Indonesia dan di Jerman secara umum, maksud saya yang saya tampilkan adalah gambaran yang dominan, bukan yang minoritas gitu hehe.
Ini dia beberapa hal yang saya anggap paling berkesan di lingkungan kerja di Jerman:
a. Sistem hirarki yang nggak kental.
Disini biarpun jadi bos tapi pada umumnya nggak lantas jadi “bossy”. Bos besar alias pemilik perusahaan dipanggil dengan nama depan tanpa embel-embel pun bukan hal yang aneh. CEO di kantorku juga selalu dipanggil cukup dengan nama saja. Selain itu semua menyapa dengan “du” (kamu/kau) dan bukannya “Sie” (Anda, atau mungkin kalau di Indonesia lebih umum kita menyapa orang yang lebih berpangkat dengan sebutan “Bapak/Ibu”).
Setiap kali mau ngasih perintah ataupun sekedar meminta sesuatu tak pernah lupa bilang “tolong”.
Pak Bos besar kalau pas lewat di ruanganku dan tiba-tiba ingin sekedar menyapa, ataupun bertanya “Is everything okay?” atau mungkin ingin tahu sesuatu tentang “project” yang kupegang, atau apapun itu; sesudahnya pasti selalu bilang…
“Ah..gut..alles klar. Danke schön.” (Ah, bagus, oke saya mengerti, terima kasih).
Ya… kata “terima kasih” ini tak pernah absen, bahkan meskipun untuk hal yang nggak berarti.
Yang jadi atasan langsungku pun tak jauh beda. Di setiap E-Mail, atau dipenghujung pembicaraan telepon, selalu ditutup dengan ucapan terimakasih. Meskipun yang dia minta itu hal yang memang sudah menjadi tugasku, hingga udah sewajarnya jika kulakukan.
So… it’s not like in Indonesia, where everything seems to be taken for granted.
Begitu punya posisi bagusan dikit aja banyak yang udah langsung menunjukkan “kekuasaan/pengaruh”, dan menganggap bahwa dia selalu berhak untuk dilayani.
Boro-boro deh menunjukkan penghargaan atas “effort” orang lain yang jadi bawahannya.
Ayo jujur aja deh, berapa sering coba kita temui kalimat macam ini:
“Kamu tahu nggak siapa saya ini, hah?!
Tapi lain Indonesia lain disini.
Bahkan ketika kita ada meeting kecil untuk bahas sebuah “project” dengan bagian IT, aku nyaris tak percaya pada pendengaranku ketika atasanku langsung, cewek rusia yang cantik itu malah bilang: “Ana, kamu mau duduk? Silahkan kamu aja yang pake gak papa…”
Well, kebetulan ruangannya memang agak sempit dan cuma ada satu kursi ekstra. Tapi malah manajerku nawarin aku yang duduk. Gimana aku ngga sempat terhenyak coba :-D.
Hal kaya gitu ngga akan pernah terbayang deh di Indonesia.
Itu sama sekali bukan basa-basi lho, tapi tawaran serius, kita pasti bisa ngenalin bedanya antara serius dengan basa-basi. Apalagi itu ngga cuma terjadi sekali. Awalnya aku selalu menolak karena ada rasa “risih”, pengaruh kultur lah, masa iya aku duduk sementara bosku berdiri. Tapi di lain waktu aku pernah terima juga, karena kalau mengingat sikon yang ada waktu itu, tawaran itu memang logis. Situasinya waktu itu kita sedang menjelaskan materi proyek yang saya pegang kepada sang CEO, sementara manajerku posisinya cuma supervisi kerjaanku, jadi yang jauh lebih paham detailnya adalah aku.
Jadi biarpun aku cuma anak magang juga nggak ada bedanya.
b. Tidak ada office boy yang bisa disuruh-suruh segala macam yang bahkan ngga ada urusannya sama pekerjaan.
Seperti misalnya disuruh bikinin kopi, disuruh muter-muter kota untuk beliin makanan ataupun minuman.
Kamu mau minum teh atau kopi? Good, silahkan bikin sendiri ==>pantry fasilitasnya komplit, kita cuma harus mau angkat pantat dan bergerak.
Lapar? Monggo beli sendiri… kalau ngga mau keluar kantor ya bawa makanan dari rumah dong. Microwave ada, kompor juga ada, kulkas pun ada.
Hampir semuanya bawa makanan dari rumah, kecuali lagi kesiangan. Satu-satunya situasi dimana pegawai harus bikinin kopi/teh buat orang lain adalah cuma jika ada tamu perusahaan yang berkunjung. Selebihnya adalah cuma “kerelaan berbaik hati” sesama teman saja.
Tentu saja kalau ada kolega yang kebetulan turun ke kota, atau sopir kantor kebetulan harus ngantar sesuatu ke kota misalnya, boleh ajalah kita minta nitip… tapi itu namanya “minta tolong” jadi yang jelas “tidak boleh nyusahin alias nggak sampai merepotkan”.
Cuma masuk akal jika yang bersangkutan kebetulan perginya searah dengan tempat dia harus beliin barang titipan misalnya.
Yang perlu ditekankan disini adalah, tugas sopir kantor itu bukan untuk melayani staff mengerjakan urusan yang ngga ada hubungannya sama kebutuhan kantor.
CEO ku aja juga kadang makan di pantry, semeja sama pegawainya kalau lagi nggak kebetulan makan siang diluar.
c. You clean up your own mess.
Cleaning service itu cuma bersihin toilet, sedot debu, ngepel lantai, ngelap jendela dan buang sampah kantor doang.
Urusan pantry adalah urusan kita bersama… Tidak peduli apapun pangkatnya, semuanya mendapatkan jatah piket. Yang lagi dapat giliran maka seminggu lamanya tugasnya menjaga kondisi pantry tetap nyaman. Membawa ketiga tong sampah yang penuh keluar (plastik, kertas, sampah dapur yang kotor), dan mengganti kantongnya dengan yang baru jika yang lama penuh. Menjalankan mesin cuci piring dan merapikan isinya jika selesai.
Meskipun ada yang piket juga ngga lantas berarti yang lain trus seenaknya aja ninggalin kotorannya dan piring kotornya gitu aja diatas meja ya.
Temen piket itu bukan budak kita. Kalau sampai ada yang jorok dan suka ninggalin barangnya geletakan sembarangan dimeja pantry, apalagi dalam kondisi kotor ==> pasti nasibnya masuk tempat sampah biarpun isinya masih penuh atau tempat makannya masih bagus. Dan itu bukannyaa ngawur ya… peringatan sudah diberikan dari awal, ditempel dipapan tulis dan ada pula di “Hausordnung” (setiap pegawai baru mendapat satu buklet tata tertib kantor dihari pertama bekerja).
Kalau sudah bersih sih lain, walaupun sebenernya nggak boleh juga geletakin sembarangan meskipun itu di pantry, karena “kerapian” itu kultur yang harus dijaga juga disini. Tapi asal ngga keseringan sih masih bisa ditolerir ya, namanya manusia kadang bisa lupa.
Tapi jangan heran kalau tiba-tiba ketika kamu ingat mau ngambil udah nggak ada. Cari aja ke mesin cuci piring, biasanya nangkring disana :-D.
d. Ngga ada dresscode dan make up juga bukan hal yang penting. Tergantung selera yang bersangkutan saja.
Sebagian orang kerja pakai keahlian akademisnya sedangkan sebagian lagi kerja pakai kekuatan ataupun ketrampilan tangannya, tapi apapun jenis pekerjaannya, disini penampilan serta baju tidak merepresentasikan kemampuan seseorang dalam bekerja apakah cukup baik atau tidak.
Kerja memakai T-shirt, sweater dengan jeans dan muka polos los tanpa make up juga biasa aja. Selama hasil kerjanya oke mah ngga ada yang ribut.
Di Indonesia kita mau ngurus surat-surat di kantor pemerintah, artinya kita ini sang pelanggan ya, itu aja harus pakai baju formal, apalagi yang kerja. Pergi ke imigrasi kalau di Indonesia ngga pakai sepatu ditolak lho. Perempuan harus pakai rok, biarpun pakai celana panjang sopan juga ngga boleh, malah yang pakai rok mini aja boleh masuk. Soal sepatu ini “tricky” banget sebenarnya. Indonesia negara tropis, orang ngga biasa pakai sepatu tertutup kecuali kerja kantoran. Masak iya kalau saya misalnya mau undang ortu untuk ke Eropa trus mereka mesti ekstra beli atau pinjam sepatu orang cuma untuk bikin paspor? Yang benar aja lah, tapi itulah Indonesia. Penampilan nomor satu. Banyak perempuan Indonesia yang udah lama di LN biasanya pergi ke Mall kalau pas mudik ngga lantas tampil kayak mau ke kondangan ya, tapi banyak yang juga cerita kalau lantas ngga mendapat pelayanan dengan baik di toko, dianggap kere soalnya. Di Indonesia kalau ke Mall keren mesti dandan kayak sosialita getoo hehehe, apalagi kerja. :-D
Kalau disini sih paling cuma di bidang pekerjaan tertentu yang menuntut penampilan rapi pakai “business attire”, seperti misalnya di bank-bank gitu, tapi selebihnya sih rata-rata low profile. Itupun ngga selal harus pakai make up, paling-paling yang umum itu mascara, lipstick aja ngga semua pada pakai, kecuali yang bersangkutan emang hobi dandan.
Tapi kalau mau memperhatikan, rata-rata yang dandan menor disini itu keturunan imigran hehehe. Orang Asia, lalu Eropa timur, seperti Rusia dan negara bekas bagian Uni Soviet itu juga biasanya suka dandan. _
Nah, enaknya di aku yang juga sekaligus ibu RT.... jadi ngga ada kewajiban nyetrika wkwkwkwk. Suamiku ngga selalu butuh bajunya disetrika karena dia kerja cuma pakai T-shirt dan dilapisi sweater kalau musim dingin. Aku cuma nyetrika kalau bajunya emang terlalu kusut aja, biasanya cuma celana panjang yang kadang terlalu kusut. Tapi biasanya sih kusutnya cuma kebangetan kalau udah beberapa kali cuci ngga disentuh setrika, jadi bisa dikatakan satu celana bisa dipakai dan dicuci setidaknya 2 kali sebelum butuh disetrika lagi.
Tapi T-shirt dan sweater sih ngga selalu butuh disetrika. Jadi ingat ada mahasiswa Asia yang nanya berapa sih gaji dosen di Jerman, kok miskin amat bajunya jarang ganti, pakai kaos dan sweater itu-itu melulu. Duh apalagi suamiku, ranselnya udah butut juga masih aja dipakai buat kerja wkwkwkkw. Professor-ku dulu banyak juga yang ngajar naik sepeda atau bus dan bajunya begitu juga.
e. Satu hal lagi yang khas dan jelas takkan terbayangkan terjadi di Indonesia. Memasang staff yang sudah berumur, kagak kinclong alias no make up, dengan body yang cenderung bulet dan pendek pula di posisi resepsionis!!!
Impossible kalau di Indonesia :-D. Dalam setiap iklan lowongan kerja aja pasti selalu ditanya umur. Untuk ngelamar jadi kasir atau penjual di mini market aja ditanyain umur lho. Bahkan tinggi dan BB pun berpengaruh pada penilaian biarpun itu ngga selalu relevan dengan pekerjaan. Kalau pramugari harus tinggi dan nggak boleh gemuk misalnya, itu memang masuk akal, karena mereka harus bantuin penumpang yang ngga bisa naikin tas-nya ke rak diatas kursi yang memang tinggi, juga karena gang antara kursi yg harus mereka lewati itu cukup sempit, jadi akan sangat mengganggu kalau mereka gemuk, karena kan mereka harus sering mondar-mandir.
Tapi disini mah pemandangan pegawai yang jangankan cuma berumur atau gemuk, yang punya kekurangan fisik pun ada.
Di kantorku waktu itu resepsionisnya udah setengah tua, punya anak dah gede, yang satu juga gemuk bahkan. Tapiiiii, mereka menguasai 4 bahasa euy! Itu yang terpenting, karena ini perusahaan yang bergerak di bidang expor-impor
Tampang sih bukan prioritas.
Well, ngga selalu yang ada di Jerman itu semuanya bagus ya, tapi setidaknya sekedar melihat dari aspek-aspek ini aja sudah bisa dikenali, kenapa saya bisa kerasan disini.
Karena apa yang saya temui kurang lebih merefleksikan prinsip hidup saya sehingga saya ngga perlu terlalu sering “gatal-gatal” wkwkkwkwk
Ngomong-ngomong, perusahaan tempat saya menghabiskan masa KKN itu memakai sistem “jam kerja fleksibel”.
Jadi saya ngga perlu panik kalau bangun kesiangan atau ketinggalan bus. :-D
Karena saya fleksibel mau masuk kerja antara jam 7-10, bisa milih. Jam pulangnya tentu aja menyesuaikan. Bagi yang kontrak kerjanya full time, 8 jam sehari, tentunya harus tinggal dikantor selama 8 jam plus jam istirahat siang terlepas jam berapapun dia masuk kantor.
Kunci kantor elektronis yang dipegang berfungsi sekaligus sebagai pencatat waktu.
Oke, cukup disini dulu berbagi pengalamannya, lain kali mungkin tema lain lagi .
Sampai Jumpa …