Pikat Pitunang
Gerimis usai, jalanan dilingkup halimun. Tak ada laju, tak ada derap kecuali; derak ranting disapu angin, derap dada dipacu risau. Malam kian jauh ke dalam senyap. Tiang-tiang lampu seakan bersepakat, bersiasat melahirkan senyap di remang-remang cahayanya.
Diam dan sendiri ia diikat alasan; berjalan tanpa harus berpaling--harus sampai, harus bisa secepatnya, sebelum bulan kian pucat dan kuyu. Ia harus mengetuk pintu, mengantarkan syarat; tujuh rupa bunga, tujuh air berbeda sumber, tujuh akar kayu, satu saga dihantam petir.
Kemenyan!
Bara dingin, dan bongkahan pinang muda serta selembar potret pujaan hati.
Mata ditawanlah, dirapallah mantra-mantra pengikat laku, pemeluk kasih, membutakan mata batin.
Puach!
Percik air liur dicampur capak baruak. Matilah kasih, butalah mata hati, larutlah dalam pandang mata.
Panjat dinding, peluk guling.
Besok kita akan kawin lari.
Mantra-mantra diulang dan dihafalkan bujang paibo. Malam kian susut, beringsut ke ujung fajar; maka hanyutkanlah....
Di hulu, di muara
di mana pertama kali kau melihat burung berkicau di pinggir ngarai di dekat alirannya. Hanyutkanlah terang sang dukun.
2016