Selamat bertemu kembali sahabat steemit yang saya cintai, apa kabar malam ini? Mudah-mudahan semuanya selalu dalam keadaan sehat wal afiat..
Pada tulisan saya sebelumnya, saya telah menceritakan tentang beberapa tahapan yang akan dilalui oleh masyarakat Indonesia dalam hal adat istiadat resepsi pernikahan, secara khusus saya menceritakan mengenai adat istiadat
Boh Gaca yang dilakukan sesudah acara pelamaran.
Namun pada kesempatan kali ini saya ingin beranjak membahas masalah Peuneuwoe (Bawaan suami kepada isteri) dihari resepsi pernikahan dalam adat istiadat masyarakat Aceh, yang mana peuneuwoe itu sendiri merupakan suatu tradisi dan hampir menjadi kewajiban yang di budayakan oleh masyarakat Aceh sampai hari ini, budaya ini masih sangat kental dan terus dipertahankan.
Pasalnya, saat saya melihat dan memperhatikan budaya ini, peuneuwoe yang diberikan oleh pengantin laki-laki kepada pengantin perempuan tersimpan nilai menghargai dan mencintai.
Peunuwoe dalam masyarakat Aceh terdiri dari berbagai bawaan, seperti perlengkapan pakaian, sepatu, alat-alat kosmetik yang terdiri dari bedak, lipstick, sabun, lulur, dan lain lain.
Ada juga peuneuwoe dalam masyarakat Aceh berupa aneka kue, biasanya dalam bahasa Aceh disebut dengan sebutan dodoi, meuseukat, wajek, keukarah, bhoi, dan berbagai jenis kue-kue lainnya.
Menariknya, kue yang diberikan dan dibawa saat acara resepsi penikahan yang dilakukan oleh pihak mempelai laki-laki yang disajikan dalam bentuk dan dibungkus dengan bungkusan yang sangat menarik dan unik, yaitu Dalong yang di hias dengan sangat cantik. Hal ini dilakukan oleh masyarakat Aceh tempo dulu hingga sekarang, dihias semenarik mungkin, sehingga barang bawaan yang dibawa tidak terlihat oleh orang lain.
Alasannya ialah karena barang bawaan tersebut memang seharusnya tidak untuk diperlihatkan, seperti pakaian dalam wanita dan sebagainya yang terkesan sebuah aib bagi pengantin wanita. Alasan lainnya dibungkus agar tidak terlihat, supaya tidak membedakan antara bawaan pengantin kaya dan pengantin miskin, ini semua dilakukan oleh orang-orang terdahulu agar antara pengantin kaya dan pengantin miskin tidak terlihat beda dan menjadi sebuah persaingan dalam sosial kemasyarakatan.
Peuneuwoe yang paling utama dalam resepsi pernikahan dalam adat istiadat masyarakat Aceh adalah Ranup Seulaseh, yaitu sirih yang dihias sedemikian rupa agar terlihat cantik, menarik, dan juga menawan.
Karna dalam ranup seulaseh tersimpan filosofi yang sangat kuat dan kental. Untuk saat ini saya tidak akan menceritakan secara rinci apa filosofi yang tersimpan dalam ranup seulaseh, yang insya Allah akan saya bahas pada kesempatan berikutnya.
Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan saya.
”English”
Dear Steemians...
How are tonight? I hope all of you are in good health and all right :)
In my previous writings, I have told you about some of the stages that Indonesian society will go through in terms of custom wedding receptions, specifically I tell about the customs of Boh Gaca which is done after the event of the application.
But on this occasion I want to go on to discuss the issue Peunuwoe (innate husband to wife) on the wedding reception in the customs of the people of Aceh, where peumuwoe itself is a tradition and almost a duty that in the community by Aceh to the day This, the culture is still very thick and continues to be maintained.
The reason, when I see and pay attention to this culture, peunuwoe given by the groom to the bride stored value of appreciation and love.
Peunuwoe in Aceh society consists of various luggage, such as clothing, shoes, cosmetic tools consisting of powder, lipstick, soap, scrub, and others.
There are also peunuwoe in Aceh society in the form of various cakes, usually in the language of Aceh called dodoi, meuseukat, wajek, keukarah, bhoi, and various other types of cookies.
Interestingly, the cakes are given and brought during the wedding reception ceremony performed by the bridegroom is presented in a form and wrapped in a very interesting and unique package, namely Dalong which is decorated in a very beautiful. This is done by the people of Aceh past until now, decorated as attractive as possible, so that luggage brought not seen by others.
The reason is that the luggage should not be shown, such as women's underwear and so forth that impressed a disgrace for the bride. Other reasons are wrapped so as not to be seen, so as not to distinguish between the innate bride rich and the poor bride, this is all done by the previous people so that between rich brides and poor brides do not look different and become a competition in social society.
Peunuwoe the most important in the wedding reception in the customs of the people of Aceh is Ranup Seulaseh, namely the betel decorated in such a way as to look beautiful, attractive, and also charming.
Karna in ranup seulaseh stored philosophy is very strong and thick. For the moment I am not going to tell you in detail what philosophy is stored in such a complex, which God willing I will discuss at the next opportunity.