Grub Dalail Khairat Pemuda Desa Meugit
Dalail Khairat merupakan kitab berisi shalawat dan doa-doa kepada Nabi Muhammad SAW. Yang menurut saya baca kitab ini disusun oleh Muhammad bin Sulaiman al Jazuli. Kitab ini biasa dibaca masyarakat islam pada saat memperingati hari besar islam, misalnya pada saat Maulid, di rumah warga yang punya hajat, dan dirumah warga yang keluarganya ada yang meninggal.
Kesenian ini masih lestari hingga sekarang, khususnya di Aceh. Masyarakat di kampung-kampung terutama para pemuda. Menjadwalkan secara khusus kegiatan ini. Kegiatan Dalail Khairat umumnya dilakukan pada malam hari. Seperti yang dilakukan oleh Pemuda Desa Meugit Ujong Rimba, dimana setiap malam selasa mereka rutin melakukan kegiatan dalail di Meunasah (Surau). Lazimnya dilakukan pada malam jumat, atau malam yang terpilih menurut dengan syiar agama.
Kitab ini sangat populer dikalangan pesantren Nusantara. Apalagi di Aceh, pesantren di Aceh sering membaca kita ini pada malam jum'at, dan dilanjutkan dengan latihan pidato atau disebut dengan Muhadharah.
Dalail Khairat menjadi wadah untuk para pemuda dan perangkat desa berkumpul. Bisa dikatakan juga dalail menjadi tempat bersilaturahmi untuk memperkokoh persatuan dan kekompakan para pemuda dengan tetua. Begitu juga Dalail Khairat menjadi penenang ditengah hiruk pikuk kehidupan duniawi, bagi yang mendengarnya akan menghilangkan kebingungan dalam hati. Bersama-sama bershalawat untuk mengagungkan nama Allah dan Kekasihnya Nabi Muhammad SAW.
Dalail Khairat yang dilakukan Pemuda Meugit di salah satu rumah warga yang keluarganya ada yang meninggal
Ini salah satu bukti bahwa adat Aceh memiliki akar dan struktur yang kuat, yang dimana kultur yang berpegang kita kepada nilai-nilai islam dan budaya yang islami. Namun ditengah arus globalisasi dan imperialisme budaya asing, sangat disayangkan kalau budaya ini hilang, seharusnya tradisi islam yang sudah berdarah-daging dalam sejarah masyarakat dan kehidupan sosial ini, harus hidup terus menerus, sehingga menjadi trend dikalangan pemuda dan dapat menjadi filter terhadap arus globalisasi dan imperialisme budaya asing. Ia juga sudah tersteuktur sedemikian kuat dalam perjalanan endatu kita. Tradisi seperti ini merupakan jiwa kita sebagai sebuah bangsa.
Saya berharap kalangan pemuda terus menghidupkan tradisi ini. Karena inilah adat kita, budaya kita. Dan juga saya berharap semoga pemuda mencintai dan merasa bangga dengan adat mereka. Dan ini juga merupakan kearifan lokal yang ada pada masyarakat Aceh Khususnya.