Gbr. Jeungki
Masyarakat Aceh menyebut alat ini jingki atau jeungki. Sebuah alat yang terbuat dari kayu pilihan dan tentu saja dari jenis kayu yang berkualitas. Bahan dasar jeungki biasanya dari kayu keras seperti Merbaue atau Ipil yaitu sejenis pohon penghasil kayu keras berkualitas tinggi anggota suku Fabaceae (Leguminosae) atau dalam bahasa Inggris di sebut Mirabow.
Alat ini tidak hanya di jumpai di Aceh, tapi di Asia Tenggara pada umumnya, seperti di Thailand.
Tapi sepertinya setelah modernisasi merambah ke berbagai sektor industri dan pertanian, alat ini semakin langka terlihat.
Biasanya di kampung-kampung di Aceh setiap rumah memiliki satu jeungki karena model rumah adat Aceh yang tinggi memungkinkan untuk meletakkannya jeungki di bagian bawah rumah atau dibagian sisi rumah.
Fungsi Jeungki
Fungsi utama jeungki adalah untuk memisahkan antara bulir padi dan kulitnya. walaupun sering juga dipakai untuk menumpuk tepung. dan pemakaiannya juga biasanya dilakukan oleh bebarapa orang. Sehingga alat ini juga bisa membuat terjalinnya kebersamaan dan silaturahmi di dalam masyarakat pedesaan, biasanya mereka sering mengundang teman atau saudara untuk membatu, dan ini akan di balas pada kunjungan berikutnya. biasanya disela keseriusan mereka melakukan pekerjaan, biasa mereka bercanda, bercerita untuk membuat pekerjaan ini jadi menyenangkan dan tidak membosankan.
Bagian-bagian Jeungki
Ada tiga bagian utama jeungki yaitu:
- Jeungki
- Alu
- Lesung
Bentuknya tentu saja dibuat sesuai fungsinya.
Cara Kerja
Dilihat dari cara kerjanya jeungki sudah memenuhi konsep dasar kerja suatu alat teknologi sederhana.
Sedangkan cara operasionalnya yaitu dengan memberi beban di bagian ujung jeungki, dalam hal ini kita meletakkan kaki pada titik tumpu yang letaknya agak lebih ke ujung pengungkit. sehingga memberikan beban yang menyebabkan jeungki terangkat dan pada saat kita melepaskan kaki dari pijakan ujung jeungki (ini dilakukan secara perlahan) akan menyebabkan alu menumbuk ke dalam lesung tempat padi atau beras diletakkan. dan ini di lakukan berulang kali sehingga mendapat hasil akhir yang diharapkan.
Jeungki dan Kenangan
Saya sendiri memiliki kenangan tersendiri dengan alat ini, jadi ingat waktu saya kecil, guru ngaji saya sering mengajak kami untuk membantunya menumbuk tepung dan ini kami lakukan setelah selesai pengajian.
Biasanya setelah selesai kegiatan menumbuk tepung, kami dibagikan sejenis makanan yang dibuat dari sisa tepung yang masih agak kasar tadi. Saya juga lupa namanya apa, tapi terasa enak sekali setelah dicampur dengan bahan tambahan lainnya.
Walaupun bukan pekerjaan ringan tetapi sedikitpun tidak terasa lelah karena dilakukan bersama dengan gembira dan ini layaknya seperti sebuah permain tentu saja jika dilakukan secara bersama.
Kesimpulan
Jeungki merupakan tehnologi tradisonal yang kini sudah berganti fungsi sebagai benda peninggalan yang bernilai sejarah.
Catatan 1
Tulisan ini adalah tantangan yang diberikan kepada saya oleh saudara , beliau adalah teman sejawat sekaligus guru saya di steemit. Melihat produktivitas saya yang sangat kurang. Beliau menantang saya untuk menulis beberapa topik dengan beberapa foto yang beliau sediakan dan akhirnya saya memilih foto jeungki ini karena terlihat unik dan punya kenangan tersendiri untuk saya.
Catatan 2
Foto Jeungki yang saya bagikan ini merupakan salah satu benda sejarah yang fotonya di ambil oleh saudara yang berlokasi di Desa Masjid Pirak, Kecamatan Matang Kuli, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh merupakan juga museum karena berbagai koleksi peninggalan sejarah aceh lainnya juga bisa kita jumpai di sana.