Hai Hivers...
Hari ini saya dapat request dari anak bungsu saya, Maher Avicenna, "Bi, tulis tentang Adek lah sekali-kali di Hive Blog," celotehnya polos. Selama masa social distancing (di rumah) saya memang kerap memperlihatkan postingan Hive saya sama anak-anak, dan mereka sering membacanya.
Anak bungsuku, Maher Avicenna.
"Ok, sayang, siap laksanakan" saya menyiyakan pintanya. Maher Avicenna, saya memberinya nama kala lahir 26 Februari 2012 silam. Maher, berarti= mahir, cerdas dan pintar, Avicenna, saya ambil dari nama latin Ibn Sina--filsuf dan juga ahli kedokteran Muslim asal Persia.
Maher, pecinta kucing.
Saat ini Maher duduk di kelas 2 SD. Tubuhnya kecil karena tidak suka banyak makan, berbeda dari abangnya Syamil yang memang doyan makan sampai kata "lapar" sebentar-bentar keluar dari mulutnya, padahal baru juga makan.
Malaikat kecilku, tidak berdaya ketika terserang cacar.
Di rumah, Maher adalah yang paling lembut hatinya, paling penyabar dan penyayang. Dia penyayang binatang, di rumah, kami memelihara kucing yang awalnya datang entah dari mana. Awalnya cuma seekor, kemudian si meong melahirkan tiga bayi kucing, dua mati, yangs elamat seekor dan sekrang sudah tumbuh besar. Beberapa bulan kemudian, induk meong melahirkan lagi 5 bayi kucing, dari lima bayi kucing hanya dua yang bertahan hidup. Maher anak saya saya sangat menyayangi kucing-kucing itu, saya dan Abangnya Syamil sedikitpun tidak boleh mengkasari mereka. "Jangan kejam sama kucing," katanya suatu hari ketika saya mengusir kucing-kucing itu karena bayinya berak sembarangan dalam rumah.
Merayakan kesembuhan paska keluar rumah sakit
Bicara soal kesabaran, Maher nomor satu di keluarga kami. Pernah dia sakit dan dirawat inap selama beberapa hari di rumah sakit, tapi dia tidak pernah mengeluh, kalau pun menangis suaranya ditahan sebisa mungkin. Ketika sembuh dan keluar dari rumah sakit, dia begitu senang, dia merayakannya dengan loncat-loncat kegirangan. "Asyik, Adek bisa main lagi di rumah," katanya.
Maher dan abangnya rebutan nyuci piring, jangan harap mereka mau melakukannya di hari biasa. Efek positif selama masa karantina mandiri di rumah.
Selama libur sekolah dan berdiam diri di rumah karena social distancing pun dia dan abangnya sangat sabar, tidak mengeluh, hanya berseru, "nanti kalau corona hilang" kita ke waterboom ya, Bi". Beres, kata saya. Mereka berdua pun sekarang semakin rajin membantu pekerjaan ibunya di rumah, seperti mencuci piring kotor dan menyapu lantai. Ini salah satu dampak positif selama masa karantina mandiri kami di rumah.
Sekian dulu cerita saya tentang Maher, dan sedikit tentang Abangnya Syamil. Terimakasih buat Hivers yang menyempatkan diri singgah di blog saya.