Seraya mengobrol dengan Zenja, gambar yang kuberi judul 'Time of Life' ini selesai juga. Memerlukan waktu nyaris tiga jam untuk membuat gambar 'seuprit' ini hehehe. Gambar ini tanpa desain awal sama sekali. Aku hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh imajinasiku saat menggerak-gerakkan pulpen gambar.
Di tengah perjalanan menggambar, imajinasiku sempat buyar karena telepon seorang teman. Tapi tidak terlalu mengganggu, sebab sambil ber-haha-hihi aku masih bisa terus mencoret-coret. Namanya saja gambar tanpa konsep kan? Jika tahu ini dia pasti akan menggemeretakkan giginya rapat-rapat. Sambil melotot dan berkacak pinggang; Ihan, paken hana kadeunge yang long peugah! Kemudian aku menjerit, minta tolong pada kucing kampung yang kini menjadi anak asuh para pria di Bivak Emperom; Arakate... ka tulong long!!!
"Arloji waktu, menunggu saat untuk menghabiskan waktu bersamamu," kataku pada Zenja sembari 'menyodorkan' gambar yang telah kupotret dengan kamera ponsel.
"Paten gambarnya, ya."
Aku hampir tersedak mendapatkan pujian itu. Syukurlah tidak sedang minum air, kalau tidak kertas gambarku pasti sudah basah tersembur air. Hm, ini hanya dramatisasi keadaan saja. Abaikan. Aku sudah terbiasa mendengarkan pujian darinya.
"Baru mulai coba-coba. Untuk ilustrasi buku."
"Dikacain (dibingkai)."
"Mungkin nanti kalau ada yang bagus. Ini ilustrasi kecil-kecil aja, untuk melengkapi cerita biar enggak polos kali. Catatan yang sudah aku kumpulkan selama 13 tahun."
"Bagus gambarnya."
"Thanks. Otak kananku lebih berfungsi. Kalau kamu, otak kiri, kan? Orang Teknik biasanya begitu."
"Aku tidak punya otak."
"Yaa... menyedihkan. Aku juga sepertinya nggak punya otak deh."
"Hehehe..."
"Kalau punya otak mungkin nggak single sampai sekarang hahahaaa."
"Kebanyakan otak."
"Hahaha."
Kami terus mengobrol, baru selesai sampai aku bersiap menuliskan catatan ini. Inilah caraku mengabadikan kenangan. Menukilkan hal-hal kecil sehingga ia terlihat besar dan penting.[]