(Dok. Odesa)
Yang krisis bukan hanya bumi. Manusia kian kehilangan gerakannya sebagai penghuni planet biru tersebut. Menanam pohon adalah satu dari sekian upaya untuk menyelamatkan kehidupan. Juga berarti pula menyelamatkan kehidupan tanaman, hewan, hingga manusia itu sendiri.
Akibat sistem ekonomi yang sangat mengglorifikasikan uang, manusia semakin tak tau arah. Uang tidak dapat, kesejahteraan pun lumat. Banyak orang desa yang menjual tanahnya. Banyak orang kampung yang memilih hidup gelandangan di kota dibanding bertani di kebun sendiri.
Kita tidak akan kelaparan. Kita tidak akan kehilangan pekerjaan. Asal, kita setia pada alam. Bukan berarti semua orang mesti jadi petani. Tapi, sistem ekonomi hingga politik harus dibangun beriringan dengan kesetiaan kita pada kelestarian alam.
Meski kerja kantoran, alam tak lestari tetap akan mengancam. Apa yang kita hirup dan malan tak terjamin kesehatannya. Semua akibat kesetiaan kita pada alam yang lumpuh. Penyelewengan semakin parah ketika para elit berhasil menjamah semua penjuru bumi, dengan jalan globalisasi.
(Dok. Odesa)
Pekerjaan Odesa Indonesia hari ini merupakan kerja global. Karena pohon yang sedang ditan tidak hanya mempengaruhi warga sekitar, tetapi juga dirasakan oleh masyarakat internasional secara luas.
Soal kemampuan menanam, kita tidak perlu meragukan kemampuan petani. Mereka sangat tahu bagaimana caranya menanam hingga memanen.
Yang sering jadi kendala ketika ingin memggerakkan petani adalah laha. Banyak sekali petani yang bilang ia tak punya lahan. Lebih banyak yang bilang tidak punya bibit.
(Dok. Odesa)
Odesa menjawab kekurangan itu dengan menunjukkan lahan-lahan pinggir jalan, sebagai solusi dari ketiadaan lahan bagi petani. Kemudian menyediakan bibit-bibit buah, yang menjawab keluhan tak punya bibit dan jarangnya konsumsi buah bagi petani.
Jadi apa yang kita lakukan tidak hanya menguntungkan tanah, yang kian rindu pada tananaman. Tetapi juga petani ikut untung karena ada investasi panganan bergizi di setiap bahu jalan kampungnya.
(Dok. Odesa)