Salah satu surat kabar kenamaan di Aceh, hari ini (Senin, 3/12) mengabarkan tentang kualitas legislatif kita. Headline koran tersebut berjudul: "Mayoritas Caleg DPRA Paket C". Sontak mengundang ragam respon di masyarakat, terutama di jagat media sosial.
Ada satu hal yang mengganjal di benak saya. Pertanyaannya, kenapa dengan Paket C? Sejauh yang saya tahu, paket c merupakan mekanisme pendidikan yang legal dan dilindungi undang-undang (UU). Paket C merupakan instrumen pemerataan serta bentuk keadilan pendidikan, terhadap mereka yang entah (pernah) putus sekolah maupun yang tidak lulus di pintu utama.
Ironisnya, sebahagia besar masyarakat kita, terutama yang pendidikannya tinggi, sinis terhadap orang-orang lulusan paket C. Ada semacam perasaan superior dalam diri, sehingga memandang paket C inferior. Padahal, tidak ada ukuran yang pakem bahwa seseorang cakap itu musti lulusan tertentu, apalagi wajib mengenyam pendidikan di institusi tertentu pula.
Pendidikan memang memiliki pengaruh besar terhadap tumbuh kembangnya manusia. Tetapi, tidak boleh dibajak oleh lebel formal. Bukankah banyak orang hebat dan pintar adalah mereka yang tidak mengenyam bangku pendidikan formal? Kurang banyakkah orang hebat di dunia ini yang tidak selesai pendidikan formalnya?
Untuk menjawab itu, saya teringat sebuah quote yang disampaikan Rocky Gerung dalam salah satu twitt-nya; "Ijazah itu tanda anda pernah sekolah. Bukan tanda anda pernah berpikir". Sederhananya, orang tetap akan berkualitas sekalipun ada dan tidaknya ijazah. Pun, dalam dan dangkalnya isi kepala seseorang tidak ditentukan ijazah merek dan paket apa.
Memperdebatkan jenjang dan jenis pendidikan formal seseorang, di sisi lain (juga) bagian dari cerminan, betapa masih tidak luasnya cara pandang yang dimiliki. Wakil rakyat (caleg) yang baik tidaklah mereka lulusan elit. Sejarah mencatat, bukankah koruptor membludak adalah mereka yang pernah mengenyam pendidikan tinggi, bahkan kampus-kampus elit.
Ada salah satu contoh sederhana yang telah terjadi di depan mata kita akan wakil rakyat. Salah seorang aktor film Aceh "Eumpang Breuh", Haji Uma saat ia mengikuti pileg DPD, banyak orang meyangsikannya, dan diprediksi tidak akan menang. Namun nasib berkata lain, ia menang bahkan mengalahkan para petahana.
Lalu, ia yang lebih sering diasosiasikan sebagai 'pelawak' nyatanya memiliki andil yang besar. Terutama memulangkan TKI Aceh di Malaysia. Haji Uma, di mata orang Aceh sudah dianggap pahlawan yang mempermudah segala urusan TKI Aceh di negeri Jiran. Setiap kemalangan yang berujung kematian, jenazahnya dipulangkan Haji Uma.
Ia adalah contoh kongkrit, dan saya menuliskan tentangnya tanpa endorse apapun. Bandingkan dengan DPD Aceh lainnya, ada satu orang yang kerjaannya lebih banyak membual. Mengatakan akan membuka kantor cabang PBB di Aceh. Apa latar belakang DPD itu? Lulusan kampus paling elit di Indonesia yang berada di kawasan Salemba dan Depok. Almamater kuning.
Sejatinya, memilih wakil rakyat memiliki konsekuensi masing-masing. Memilih orang pintar, besar kemungkinan akan memanfaatkan situasi. Sekalipun memang tidak semuanya. Suatu ketika, di kampung, seseorang pernah berujar kepada saya dalam bahasa Aceh yang di tulisan ini saya terjemahkan.
Katanya: "Lebih baik aku pilih yang tampak tidak elit dan nampaknya bodoh. Karena kemungkinan untuk dia menipu agaknya kecil. Aku ini orang bodoh, bukan aku tidak percaya orang pintar. Seingatku, orang-orang yang katanya pintar itu, lebih maling daripada maling". Jujur saya terkejut mendengar pernyataan orang itu, suatu ketika.
Pada akhirnya, pendidikan formal bukanlah tolok ukur absolute seseorang itu pintar. Terlebih menilai baik atau buruknya ia. Dan agak riskan bila menilai orang lain hanya dari ukuran itu. Setiap orang tergantung hati kecil dan cara pandang, dalam perjalanan, pengalaman turut membentuk seseorang. Satu hal yang pasti, empati tidak lahir hanya karena ia lulusan formal university.
Maka dari itu, paket c bukanlah aib dunia pendidikan. Paket c seolah buruk dan melahirkan orang-orang tidak kompeten, hanyalah bentuk pemikiran tidak matang. Menanggap lulusan paket c tidak ada apa-apanya, sesungguhnya adalah bentuk rasisme pendidikan itu sendiri. Sebagai penutup, dalam menilai saya teringat petuah sastrawan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer; *"Adilah sejak dalam pikiran!".