Pertanyaan itu terus saja diajukan oleh semua anak-anak saya, dan sejujurnya itu pun adalah pertanyaan yang terus saya ajukan pada diri saya sendiri, “Haruskah mereka tetap pergi ke sekolah?”. Ada banyak sekali pertimbangan yang sebenarnya membuat saya ingin menghentikan mereka pergi ke sekolah, lebih baik di rumah saja dan belajar sendiri karena untuk menjadi terdidik tidak perlu sekolah pun bisa. Sekolah bukan lagi tempat untuk mendapatkan pendidikan tetapi lebih cenderung sebagai tempat untuk formalitas mendapatkan ijazah saja, bukan pendidikannya yang diutamakan tetapi malah justru banyak urusan administrasi dan hal lain yang tidak penting. Masalahnya, untuk sekolah home schooling pun biayanya lumayan tinggi, saya berpikir juga apakah saya memiliki cukup waktu untuk bisa mengajar mereka sendirian?
Sungguh saya sudah tidak tahu harus berkata apa lagi bila melihat buku pelajaran anak-anak saya. Mau marah pun rasanya percuma karena mau marah ke siapa? Bagaimana anak kelas 2 SD sudah harus belajar perhitungan kali-kalian sampai ribuan? Bagaimana anak kelas 4 SD harus belajar pembagian puluhan ribu? Bagaimana anak kelas 5 SD sudah harus bisa geometri? Kenapa juga anak SMA dibodohi dengan dipaksa belajar ekonomi yang ternyata adalah pelajaran tata buku saja?! Sebenarnya apa yang menjadi tujuan dari pendidikan di Indonesia ini?
Jika memang dianggap bahwa “percepatan” ilmu yang diberikan, sehingga materi yang seharusnya belum waktunya diberikan agar kelihatan cerdas dan pintar, maka sama sekali salah total. Sudah terbukti bahwa anak yang terlalu dipaksa belajar maka bisa mengalami depresi dan stress, sehingga besar kemungkinan justru anak tersebut menjadi gagal saat kuliah dan dewasa nantinya. Cerdasnya seorang anak tidak bisa dinilai dari nilai rapor semata, karena banyak sekali materi yang hanya sekedar hafalan, meniru, dan bukan menggunakan logika mendasar yang sangat penting dalam perkembangan pembentukan pola pikir. Pelajaran bahasa Indonesia, menggambar, menulis, dan musik yang sebenarnya adalah pelajaran sangat penting untuk bisa membuat anak lebih logis dan memiliki nalar yang tersruktur malah dianggap tidak penting, sementara pelajaran matematikanya juga tidak diajarkan logika dasarnya, hanya sekedar penerapannya saja.
Saya selalu berkata kepada anak-anak saya bahwa saya tidak akan pernah meminta mereka untuk memiliki rapor dan nilai yang bagus, sebab bukan itu yang menjadi patokan penilaian saya terhadap keberhasilan seorang anak dalam belajar. Saya meminta mereka untuk berani menjadi diri sendiri, menemukan masalah dan mencari upaya penyelesaiannya sendiri. Saya tidak akan pernah bangga bila mereka mampu menghafal hasil karya orang besar dan hebat, walaupun mereka terkenal sekalipun, sebab bagi saya yang terpenting adalah bagaimana mereka bisa menangkap apa yang dibuat dari orang-orang besar dan hebat itu, lalu dicerna, dan bagaimana kemudian pendapat mereka atas hal tersebut. Dalam pelajaran agama pun, walaupun mereka harus menghafal ayat-ayat suci dalam Al Quran, tetapi tetap saya tanyakan bagaimana pendapat mereka tentang ayat-ayat tersebut, sebab saya jelaskan bahwa Allah memberikan anugerah kepada manusia kemampuan intelektual dan meminta kita umatnya untuk selalu belajar. Berpikir dan belajar adalah bagian dari cara kita untuk bersyukur dan hormat kepada Allah.
Ini belum lagi soal disiplin yang kerap diterapkan oleh sekolah dan para guru kepada muridnya, yang menurut saya sangat tidak konsisten. Guru meminta murid konsisten dalam mengerjakan tugas, membawa barang-barang yang diperlukan, masuk tepat waktu, berseragam rapih dan baik, dan lain sebagainya, sementara sekolah dan guru sendiri tidak memiliki kedisiplinan bahkan dalam waktu dan mengajar. Paling tidak ini yang saya rasakan dari sekolah anak saya, guru dan sekolah seperti tidak bisa mengatur jadwal sekolah yang baik, sehingga orang tua murid sering kebingungan sendiri akibat jadwal masuk dan pulang yang kerap berubah-ubah. Ini adalah juga sebuah keegoisan, karena tidak berpikir bahwa tidak semua orang tua bisa menunggu anaknya terus menerus di sekolah, dan tidak baik juga bila anak terus ditunggui orang tua di sekolah. Jika terjadi apa-apa, apakah sekolah mau bertanggung jawab? Pasti akan kembali kepada orang tua masing-masing, kan?
Yang paling membuat saya kesal adalah bila selalu ada “mendadak” harus beli ini itu untuk esok hari, apalagi untuk pelajaran prakarya atau sekedar harus membeli tanaman untuk diberikan di sekolah. Ini aneh sekali, masa sekolah tidak bisa membuat jadwal paling tidak seminggu sebelumnya agar orang tua tidak kerepotan? Lucunya lagi, sekolah pun tidak mau tahu soal urusan iuran dan kas kelas atau berbagai urusan yang berhubungan dengan keuangan, sehingga semuanya diurus oleh wakil daripada orang tua, sementara semua urusan keuangan ini diperlukan untuk keperluan dan kepentingan di sekolah. Contohnya saja bila ada kegiatan, maka anak saya dimintai lagi uang untuk kegiatan tersebut, tetapi sekolah tidak mau mengakuinya. Ini sangat tidak lucu dan jelas sudah tidak memberikan contoh yang baik, bagaimana sekolah dan guru bisa meminta anak didiknya jujur bila sekolah dan guru sendiri sudah berani terang-terangan tidak jujur?!
Bisa kita kembalikan lagi kepada pemerintah dengan segala aturan yang diterapkan, dan pemerintah kembali disalahkan. Guru dan sekolah hanya sebagai pelaksana yang juga membutuhkan pekerjaan untuk tetap bisa hidup dan membiayai kebutuhan keluarganya, dengan gaji yang tidak memadai pula, tetapi bagaimana dengan hati nurani dan rasa yang ada? Saya sangat kagum sekali dengan kemampuan untuk menipu diri sendiri sehingga membiarkan semua ini terjadi. Pantas saja jika ada guru agama yang selama ini melecehkan anak-anak di sekolah pun didiamkan saja dan malah ditutupi, hanya karena takut nama sekolah dan pendidikan tercoreng, padahal anak-anak itu masa depannya sudah dirusak! Sungguh sangat tega, ya?!
Yah, ini hanyalah tulisan uneg-uneg saya saja. Sebentar lagi sekolah akan dimulai kembali dan jujur saja, saya merasa sangat tidak nyaman. Sudah terbayang di mata saya bagaimana saya harus kembali membiarkan mereka tidak masuk sekolah karena saya tidak ingin mereka depresi, stress, dan hancur karena sekolah. Ini menjadi dilema bagi ibu yang juga bekerja dan memiliki kesibukan seperti saya, walaupun saya terus mengajar dan mendidik anak saya sendiri juga di rumah, tetapi tetap saja tidak bisa seintensif itu. Ada waktu di mana saya juga terlalu lelah ataupun tidak ada di rumah, sehingga mereka harus belajar sendiri juga dan ada waktunya mereka tetap membutuhkan bantuan. Saya hanya bisa berharap ada perubahan besar dalam dunia pendidikan di Indonesia, yang terbukti tidak membuat anak Indonesia menjadi lebih hebat dan baik juga saat ini. Prestasi ada banyak tetapi itu bukanlah sebagai bukti bahwa benar pendidikan kita sudah maju dan membuat anak Indonesia terdidik. Dibodohi oleh media massa dan sosial media saja masih gampang banget, apalagi oleh uang dan kekuasaan, wah itu lagi! Mau jadi apa Indonesia ini ke depannya?!
Bandung, 30 Juni 2018
Salam hangat selalu,
Mariska Lubis