Ini adalah permintaan dari beberapa orang Steemian yang ingin menulis dengan dua bahasa atau lebih, tetapi tidak mau mengurangi “kualitas” tulisannya karena hanya menggunakan terjemahan langsung. Menggunakan google translate pun tidak membantu, karena bukan hanya seringkali membuat tulisan menjadi kacau balau dan tidak dimengerti, tetapi juga membuat kualitas dari tulisan awalnya menjadi hancur berantakan. Soal reward/upvote itu lain lagi ceritanya, mereka yang bertanya adalah mereka yang lebih peduli soal kualitas tulisannya daripada hanya sekedar mencari upvote/reward di Steemit.
Untuk menulis dengan menggunakan bahasa asing memang sangat disarankan tidak menerjemahkannya dari bahasa Indonesia. Ada banyak perbedaan dalam istilah dan apalagi bila menyangkut budaya, bahkan apa yang harusnya lucu pun bisa menjadi tidak lucu bila diterjemahkan langsung begitu saja. Kata-kata yang dipergunakan, walaupun memiliki arti yang sama, belum tentu tepat dan sesuai dengan tulisan aslinya. Apalagi untuk tulisan berbentuk prosa (fiksi dan pusi), maka tidak semudah itu menerjemahkan ke dalam bahasa asing, rasa yang disampaikan dalam tulisan harus benar-benar bisa didapatkan lewat pemilihan kata yang tepat, bukan hanya sekedar terjemahan.
Idealnya, jika ingin membuat tulisan dengan dua bahasa atau lebih, maka semua dibuat sebagai tulisan sendiri-sendiri. Tidak perlu harus sama persis satu dengan lainnya, tetapi yang terpenting adalah isi dan tujuan dari tulisan tersebut bisa disampaikan dengan baik. Saya pribadi selalu menulis dulu menggunakan bahasa asing sebelum kemudian membuat lagi dalam bahasa Indonesia sebagai terjemahannhya, karena bagi saya jauh lebih mudah menulis dulu dalam bahasa asing dan dibuat lagi dalam bahasa Indonesia dibandingkan dengan sebaliknya. Cara ini juga saya lakukan untuk menghindari hilangnya rasa dan tujuan dari apa yang ingin saya sampaikan dalam tulisan, sehingga urusan kualitas bisa tetap terjaga.
Perlu diingat bahwa masing-masing negara memiliki istilah dalam katanya sendiri-sendiri, sehingga walaupun sama-sama menggunakan bahasa Inggris, tetapi belum tentu sama istilah yang digunakan. Kita harus bisa memastikan dulu, bahasa Inggris mana yang mau kita gunakan, apakah Inggris-Inggris, Inggris-Amerika, Inggris-Australia, atau Inggris-Singapore, yang bahkan dalam penulisan katanya pun bisa berbeda-beda. Kita sebaiknya pahami dulu budaya masing-masing, sehingga tidak salah memilih kata yang tepat. Memang tidak semudah yang dibayangkan dalam urusan menulis dalam dua bahasa atau lebih, tidak juga bisa disepelekan begitu saja jika memang ingin bersikap profesional dan tetap mementingkan kualitas, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Semua hanya butuh latihan, kesabaran, dan menjaga kualitas mental dan pikiran saja.
Di dalam mencari padanan kata yang sesuai dalam bahasa asing, sebaiknya gunakan kamus yang paling tepat, bukan hanya kamus biasa. Misalnya ingin mencari nama bunga, belum tentu nama bunga dalam bahasa Indonesia bisa sama dengan bahasa asingnya, sehingga perlu dicari kamus khusus istilah atau nama bunga. Misalnya saja bunga putri malu, maka menjadi sebuah kesalahan besar bila menerjemahkannya menjadi ‘Shy princess flower”, siapa yang akan paham? Sementara sebenarnya bunga putri malu memiliki istilah sendiri yaitu mimosa, atau daripada salah, sebaiknya gunakan saja bahasa latinnya yaitu mimosa pudica, yang merupakan istilah biologis yang disepakati bersama di seluruh dunia ini agar semua paham apa yang dimaksudkan. Contoh lainnya adalah “tikus”, di dalam bahasa Inggris ada “rat”, “mouse’, “mice”, yang kalau dalam bahasa Indonesia tetap menjadi tikut saja, nah yang mana yang sebenarnya dimaksudkan bila kita ingin membuat terjemahannya? Oleh karena itu, kita tetap harus bisa berhati-hati.
Walaupun pada umumnya bahasa asing tidak memiliki “kelas” seperti kebanyakan bahasa daerah di Indonesia, tetapi mereka pun memiliki cara sendiri di dalam memililih kata untuk setiap “audience’ yang berbeda. Cara bicara dan pemilihan kata pada saat formal dan tidak formal, bisa berbeda walaupun artinya sama, kata yang digunakan untuk dunia politik dan dunia sepakbola misalnya, bisa amat sangat berbeda. Nah, jika kita tidak paham akan hal ini, maka jangan sampai marah kalau kita kemudian dikira hanya menulis bagi kalangan tertentu saja dan tidak mau dibaca oleh semua. Yah, kalau bahasa yang dipakainya untuk kalangan orang semrawut tak jelas di jalanan yang kacau balau, buat apa juga dibaca oleh mereka yang terbiasa menggunakan etika teratur?! Adab dan etika ini menunjukkan “kelas’ dan ‘kualitas’ seseorang, mau diakui atau tidak itu lain cerita, tetapi itulah adanya. Jika tulisan ditujukan untuk kalangan profesional dan terdidik, maka gunakanlah bahasa yang memiliki etika dan adab yang sesuai.
Saya orang yang idealis, lebih baik belajar perlahan dari awal daripada terburu-buru. Semua butuh riset, pemikiran, dan juga kematangan, buru-buru dan instant tidak akan membuahkan apa-apa selain rasa malu dan kehancuran pada diri sendiri. Meskipun punya kedudukan, uang banyak, ranking tinggi, reward banyak, tetapi bila tidak bisa menjaga kualitas dan profesionalisme di dalam bekerja, berkarya, dan dalam apapun maka waktu akan membuktikannya. Lagipula, jika memang ingin bahasa Indonesia atau bahasa daerah kita dihormati oleh orang lain, maka bukan hanya kita harus bisa menjaga kualitas bahasa Indonesia dan bahasa daerah kita sendiri, tetapi juga harus bisa menghormati bahasa asing dengan menggunakannya secara baik dan benar juga. Yang malu bukan mereka atau orang lain yang membacanya, jika kita asal dan salah, kita sendiri yang sebenarnya sudah mempermalukan diri kita sendiri.
Semoga berguna dan bermanfaat.
Bandung, 31 Juli 2018
Salam hangat selalu,
Mariska Lubis