KEUMALA - Terdiam ku di atas sepetak kursi tempat duduk yg beralaskan kayu-kayu kecil, tampak di depan ku meja dan kursi tertata rapi Layaknya warung kopi pada umumnya.
Terlihat lalu lalang sepeda motor di tepian jalan.
Mataku tertuju pada semua pengendara yg lewat berlawan arah pandangan ku.
kelihatan mereka sedang asyik berbicara di atas sepeda motor berkecepatan 30 km/jam ada pula yg mengendarai sepeda motor dengan sangat cepat mungkin mereka yg berpulangan jauh takut tidak bisa berbuka bersama keluarganya.
Namun tidak sedikit kulihat mereka bergandengan sepeda motor berbicara halus sambil ketawa kecil.
Belakangan kulihat juga sekelompok muda-mudi dengan santainya menikmati angin sepoi-sepoi yg di ciptakan oleh Mesin kuda pacu yg mereka kendarai sore itu.
Sebagian terfokus pada penjual pinggir jalan yg lagi sibuk membungkus barang dagangannya sebagai pesanan konsumen.
Ada pula yg tak perduli apapun di tengah kawannya yg sedang terbius memandang kesana kemari.
"Merdi kaboh kupi 3 ribei" tatap ku kosong,mungkin si pemilik kedai kopi tidak mendengarnya.
"Merdi kaboh kupi 3 ribeiii" ucapku gusar kepada pemilik kedai kopi.
"Kupi 3 ribeii nyee?" Tegas merdi,
Barangkali dia sadar karna raut muka saya muram membunuh tatapan dia.
"Nyee....
Dengan langkah mundur dia langsung menyiapkan kopi yg saya pesan.
Selepas itu, saya melihat ke samping kiri.
Terlihat 3 orang tua sedang mengobrol serius tanpa ku tau topik pembahasan,
"Ah... Sudahlah" tepis rasa ingin tahu ku di dalam hati.
"Mungkin beliau sedang membahas langkah kedepan supaya desa nya maju" fikir ku positif .
"Ggggrrrkk" suara meja ketika sang pemilik warung meletakkan kopi tepat di depan tempat duduk ku disana.
Tangan ku pun menjalar ke saku, jari jemari secara refleks mencari secabik uang kertas receh yg ku simpan semalam, ku dapatkan dan langsung ku bayar.