
Selembar surat tanda tamat belajar sekolah kelas 2, 1926, milik seorang warga, yang orangtuanya dulu adalah seorang petinggi desa
Sungguh, bagaimana rasanya dada menggelegak ketika melihat selembar kertas yang sudah menguning dikeluarkan dari sebuah tas atau koper tua, atau dari dalam sebuah map plastik. Ada juga yang sengaja disimpan dengan cara disisipkan dalam sebuah buku agama yang juga sudah tua. Begitu haru aku kemudian, ketika seorang bapak tua berkata: ”bawalah ini semua, Nak. Manfaatkanlah sebaik-baiknya.”
Sejumlah dokumen tua (40-an lembar) yang berhasil saya kumpulkan dari beberapa warga sepuh di desa-desa yang ada di Kabupaten Kepahiang, saat penelitian untuk penulisan buku Sejarah Kepahiang. Dokumen-dokumen ini sekarang berada di tangan saya. Sebagian besar masih terawat baik, sebagian lainnya dalam kondisi rusak. Beberapa sudah sulit dibaca, apalagi yang ditulis dengan pensil, comte atau pastel. Setelah di-scan untuk penyimpanan dalam bentuk digital, dokumen-dokumen itu sekarang aku simpan dan dirawat secara pribadi, namun tetap aku coba sesuaikan dengan standar yang berlaku di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Rencananya semua dokumen yang telah berusia lebih 70 tahun lebih itu akan saya serahkan kepada Pemerintah Daerah.
Tentu masih ada dokumen-dokumen lain yang tersimpan di rumah penduduk. Sementara, dokumen-dokumen yang ada ini saja telah menjadi penemuan berharga, karena setahu saya Kepahiang sendiri tidak memiliki dokumen-dokumen yang berusia lebih dari 50 tahun.

Sebuah surat perintah dari Komandan TNI kepada seorang kepala desa untuk menghukum mati seorang mata-mata Belanda
Kertas, salah satu benda yang hampir selalu luput dalam penulisan sejarah. Benda yang senyatanya adalah sederhana ini, namun sangat diperlukan dan sangat pula sulit dicari dalam situasi perang. Surat-surat, perintah atau catatan-catatan administrasi membutuhkan kertas. Tidak mudah menemukan kertas, sehingga kertas pun menjadi begitu berharga. Kertas-kertas bekas, yang masih baik atau pun di halaman belakangnya masih ada ruang kosong akan tetap dipakai, untuk memenuhi kebutuhan kertas. Bahkan, satu kesatuan TNI kita dulu pernah kehabisan kertas, sehingga harus menggunakan lembaran dari pelepah pinang yang telah ditipiskan untuk menulis surat ke kompi di wilayah lain.


Penghematan kertas!
Selembar surat resmi menggunakan kertas bekas dari Camat Kepahiang kepada seorang pasirah (kepala marga), berukuran18,1 x 14,8 cm, 19 Juni 1946
Pemakaiannya harus diperhitungkan sehemat mungkin. Dari selembar kertas buku tulis berukuran 20 cm x 11 cm, sering harus dipotong-potong menjadi berukuran 5 cm x 11 cm. Di atas kertas sekecil itulah surat koordinasi antar kesatuan lain atau kepada komandan di induk pasukan disampaikan.
Mengingat pentingnya kertas ini, maka sumbangan dari rakyat berupa kertas akan sangat dihargai. Sebagaimana seorang warga mendapatkan ucapan terima kasih dari TNI atas sumbangannya berupa kertas kajang sebanyak 10 lembar. Warga tersebut juga memberikan sumbangan berupa 1 almanak dan sebatang pensil.

Surat tanda terima dari TNI atas sumbangan kertas dari warga Dusun Pulo Geto bernama Nuri
Sumbangan kertas dari rakyat, dalam masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan bukanlah sebuah sumbangan yang kecil. Blokade darat dan udara dari pihak Belanda membuat semua komunikasi, koordinasi dan logistik antar daerah atau pasukan sangat sulit dilaksanakan. Sering masing-masing kesatuan dari besar hingga kecil harus mampu mencukupi kebutuhan kesatuannya masing-masing, termasuk juga kebutuhan kertas dan alat tulis yang dibutuhkan demi tetap berjalannya administrasi kesatuan-kesatuan itu.
================================
Emong Soewandi ||
Hive account@emong.soewandi
