Hampir saban hari, sore datang dengan segenap kelelahan yang menggantung di punggungnya. Segala aktivitas yang segar sedari pagi hari, memilih jeda, bahkan berhenti saat matahari hendak pamit kembali ke asalnya. Di batas sisa lelah, asa megendur, dan semangat yang keletihan, senja (tak) tiba-tiba datang dengan segala kilau jingga keanggunannya.
Bagi pemujanya (senja), ia dipandang tak ubahnya aquarium imajinasi Tuhan. Yang padahal, pada batas hakikat agak berbahaya. Tapi, pada pikiran yang merdeka dengan segala konsekuensi yang ada, senja adalah (hampir) segalanya. Saat menatapnya, seakan segala lelah memuai bersama semilir angin yang berhembus halus. Senja, di hadapan mata yang mengantuk adalah teduh memejam lega. Senja, di tubuh yang payah ialah nadi pendetak semangat. Senja, pada jiwa yang rapuh tak ubahnya pelecut penggelora bara harapan.
Tunggu dulu, senja kadang hanyalah persakitan bagi siapa saja yang tak menghendakinya, hanya karena, status, ataupun, terlalu melow. Tahukah engkau, sungguh, senja amat kejam bagi mereka-mereka yang hatinya kesepian dengan jiwa-jiwanya yang kosong.
Ketika yang lain bisa bercumbu dengan senja entah melalui tatapan sesaat lalu memejamkan mata sembari dua tanggan membantali kepala, dalam angan dan imajinasi berpuisi untuk kehidupan. Mulai dari curhatan hari-hari yang lelah untuk hari-hari yang cerah, hingga puisi berpayung senja kepada seorang kekasih yang terus saja nyaman mengisi relung hatinya.
Tapi, segala yang indah tak selamanya berlaku sama terhadap yang lainnya. Beberapa justru terjerambat dalam nestapa. Tentu, di hadapan senja:
Mungkin, Seno Gumira Ajidarma (SGA) perlu menulis buku lanjutan, setelah buku "Sepotong Senja untuk Pacarku", dengan buku baru; "Sepotong Senja yang Kusedekahkan Untukmu yang Kesepian". Agar tak ada (lagi) yang merasa, bahwa; di hadapan senja, ketidakadilan kerap mengintai mangsa-mangsa yang terlanjur kesepian. Padahal, yang (mungkin) benarnya; ketidakadilan kerap mengatasnamakan senja. Beberapa kasus, memang, senja hanyalah kambing hitam. Baik untuk mereka yang (sok) terduga bahagia, atau mereka yang (sok) kebaperan kesepian.
Bukankah setiap senja selalu berpayungkan langit? Dan di bawah langit siapa saja bisa memandanginya? Lalu, siapa aku, kau, mereka, dan siapa saja, yang seenak hati mengkapling-kapling senja?