Masjid ini ternyata diresmikan Presiden Soeharto, dibangun untuk tempat ibadah para mahasiswa yang menghuni Asrama Kopelma Universitas Syiah Kuala, Darussalam di Jalan Inong Balee maupun warga sekitar.
Tak ada yang menonjol di masjid itu, kecil dan sederhana saja saat aku singgah sebentar untuk jamaah zuhur Sabtu kemarin. Usai salat, aku keluar dan pandangan tertuju pada dinding bagian dalam, sebuah marmer peresmian yang ditanda-tangani oleh Presiden Soeharto.
Namanya bukan atas nama preesiden, tetapi Ketua Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila. Masjid itu dibangun dengan sumbangan Yayasan tersebut dan diresmikan pada 19 September 1992.
Masdjid itu dibangun tak lama setelah asrama mahasiswa rampung didirikan untuk menampung para mahasiswa luar Banda Aceh yang kuliah di Unsyiah. Saat ini ada seribuan mahasiswa yang tingga di sana. Ini membuat saban waktu salat, masjid ramai dan saat sore maupun malam ada ragam kegiatan pengajian.
Soerharto adalah Presiden kedua Indonesia yang berkuasa sejak 1967 – 1998 setelah menggantikan Presiden Soekarno yang berkuasa sejak Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945.
Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 menyusul kerusuhan Mei dan demontrasi mahasiswa di seluruh Indonesia tak terkecuali di Banda Aceh. Setelah mundur, Presiden dijabat oleh BJ Habibie.
Masjid yang diresmikan Soeharto di Asrama Kopelma Unsyiah bernama Baitul Muttaqin. Masjid tanpa kubah, hanya atap bertingkat tiga, mengikuti gaya masjid-masjid kuno di Aceh dulunya.
Di komplek Unsyiah ada beberapa masjid dan mushala yang kerap dijadikan mahasiswa untuk kegiatan keagamaan, selain di sana ada masjid Jamik Kopelma Darussalam yang berdekatan dengan Gedung Rektorat Unsyiah. Ada juga mushala di depan Fakultas MIPA Unsyiah, Mushala Fakultas Teknik dan lainnya di beberapa fakultas. []