Aku, sama sepertinya. Masih sendiri berusaha mengubur semua fragmen kita sekuatnya. Tak ada batu yang bisa memecahkannya. Tak ada godam yang cukup kuat menamparnya hingga setidaknya ia retak.
Saya masih sulit menemukan sosok untuk mengisi kekosongan itu. Maksudku, mengisi kosong yang kau tinggalkan. Beberapa kali aku pernah mencoba melupakannya dengan bercerita pada cermin. Namun ia hanya hanya diam dan tak menggubris. Tentu saja.
Barangkali, kamu tak ingin tahu tentangku yang kesusahan menghapus semua cerita kita. Tentang lagu yang kau ciptakan. Atau tentang bualan yang benar-benar mencirikan kamu. Aku masih kesusahan. Entah sampai kapan.
Mungkin kau juga acuh, bahwa, setiap malam aku masih mengirim namamu pada tuhan agar menyandingkan dengan namaku. Tapi aku cukup sadar dan bersikap sewajarnya. Takdir tentu sudah tertulis sebelum kedua kaki kita mengintip bumi.
Lantas aku mengingkari. Aku tetap menyebut namamu dan masa bodoh pada keadaan. Aku sangat kesulitan tanpamu. Senja yang kau tinggalkan tak dapat berbuat banyak. Ia sendiri kesusahan setiap malam muncul dari langit-langit kehidupan.
Sepertinya aku memang harus menyerah. Mungkin memang sudah saatnya aku benar-benar berdamai dengan kenyataan dan mulai melangkah. Bahwa semua tak seperti yang diinginkan. Orang-orang bisa menggambarkan cita-citanya sehebat mungkin dalam angan. Tapi tuhan tetap pengambil keputusan.
Mungkin tuhan telah mengetuk palu kehidupan untuk kisahku. Bahwa aku memang harus terbiasa tanpamu yang kadang membuatku ketergantungan. Kamu bagai candu yang harus kubuang sehormatnya. Kamu sesuatu yang harus aku buang dari lembar-lembar kehidupan.
Dan melalui senja yang kau tinggalkan itu, aku ingin pamit sepenuhnya. Aku ingin benar-benar enyah dari radarmu. Aku pasti sanggup. Seperti janji tuhan, semesta akan memeluk siapapun yang mempercayakan nasibnya pada jalan takdir. Aku mencoba untuk melakukannya. Aku bisa. Tentu saja.
Salam Kreatif