Masyarakat Takengon berkumpul di jalan kota ketika mendengar jenazah Aman Dimot dibawa kembali dari medan perang.
Mereka meneriakkan merdeka sekaligus berduka. Masyarakat Takengon membangun sebuah Tugu Untuk menghormati jasa perjuangannya Aman Dimot dan tugu satu lagi Kalibata
Setelah wafat nya Aman Dimot , beliau meninggalkan dua orang isteri Yaitu Semidah dan Jani, dan empat anaknya .
Salah satu anak nya yang bernama M. Yunus, anak bungsunya, kini masih hidup. Sehari-hari ia membuat gula aren di Desa Uning Isaq Kecamatan Lingge.
Aman Dimot pernah menggadaikan sawahnya di Kampung Molek tepatnya Ume Lemang, Isaq. Duitnya dipakai membeli senjata. Hingga kini sawah tersebut belum sanggup ditebus oleh anak-anaknya.
source pedang yang di pakai Amana dimot
Profesor M. Dien Madjit, salah Guru Besar Sejarah, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Beliau mengatakan, Abu Bakar Aman Dimot layak menjadi pahlawan nasional karena berjuang hingga ke luar Aceh.
Dien Madjit telah mengarang sebuah buku berjudul Pedang Berdarah Kisah Perjuangan Abu Bakar Aman Dimot pada tahun 2010.
Buku ini dibuat sebagai salah satu syarat mengajukan Aman Dimot menjadi pahlawan nasional.
Namun usaha ini gagal karena menurut Kementerian Sosial data perjuangan sosok ini masih kurang. Pemerintah harus mencari dan menelusuri di mana dan apa saja perjuangan Aman Dimot melawan kolonial, ujar Dien Majit yang asli dari tanah Gayo
sungguh sangat ironis
Demikian sahabat perjuangan Aman Dimot untuk negara indonesia , walau tanpa di kenang sita sebagai warga negara harus bersyukur dengan apa yang kita dapat kan dan satu lagi jangan pernah Lupakan Sejarah
sekian dan terimakasih