Dampeng merupakan nama salah satu tari suku singkel. Secara harpiah, dampeng tidak mempunyai arti. Namun dampeng mempunyai makna menyatukan "visi", oleh karenanya tari dampeng ini bisa juga mempunyai makna tari "kebersamaan " atau tari "persatuan".
Tari "persatuan " ini dilakukan oleh raja raja Singkel, dalam rangka menjalin persatuan dan kesatuan dalam hal pencaharian (ekonomi), sosial, budaya dan pertahananan.
Tari yang membentuk lingkaran ini minimal di ikuti oleh 8 orang (8 raja Sukhaya/simpang kiri, 8 raja Cinendang /Simpang Kanan). Beloh juga lebih, bahkan lebih dari 16 (jumlah raja raja Singkel) juga boleh.
Tari ini diiringi lantunan syair berupa pantun pantun, pelantun syair disebut "pengulu Ronde", laksana "cahi" dalam tari Seudati (Aceh). Syair-syair nya biasa syair "menyapa" (menggekhaken) atau syair " pamitan" (menahuti).
Tari Dampeng pada dasarnya digelar sebagai tari penutup pada pagelaran kesenian dalam pesta adat. Sebagai penari penutup maka dilaksanakan menjelang terbit matahari (mekhandan mahakh).
Bila Tari Dampeng ini dilaksanakan pada pesta adat tersebut, maka ditengah tengah penari mesti di letakkan dulang (dalung) berisi nasi kunyit (nakan gekhsing) yang diatas nya ditaruh panggang ayam.
Tari ini digunakan juga untuk menyambut rombongan mempelai (mempule) .
Selain itu Tari Dampeng merupakan tari wajib untuk menyambut kedatangan Tamu Kehormatan yang dilaksanakan sesaat tamu mau sampai ke tempat acara, biasanya di halaman tempat acara (bukan di dalam ruangan).
Demikian, semoga bermanfaat.